Selasa, 25 September 2012

Istana Bogor

Bogor, Jawa Barat
Dibangun pada tahun 1744
 

Wajah Istana Bogor sekarang ini agaknya tidak banyak berbeda dari ketika dibangun kembali tahun 1850. Kompleks istana yang 24 hektar ini halamannya ditumbuhi oleh kira-kira 100 pohon besar, sebagian setua bangunan itu, dan ada pula yang lebih tua lagi. Di padang rumputnya yang membentang luas tampak berkeliaran rusa-rusa yang jumlahnya sekitar 200 ekor, berasal dari enam pasang rusa adri Asia Daratan yang mula-mula didatangkan di istana tersebut pada tahun 1811. Rusa-rusa yang jinak itu menciptakan suasana santai, serasi benar dengan angsa-angsa yang sering berkecimpung dalam kolam-kolam di belakang dan depan istana yang penuh ditumbuhi bunga teratai. Gedung megah yang seakan-akan terbenam ditengah-tengah kehijauan tropis ini memang tepat untuk tempat mengungsi dari udara panas dan kesibukan kota Jakarta. Tidak heran kalau tanah itu telah dipilih oleh Gubernur Jenderal Belanda G.W. Baron van Imhoff untuk tempat mendirikan pesanggrahannya pada tahun 1745.

Walaupaun sejak awal abad 18 kota Batavia (Jakarta) mulai berkembang menjadi daerah yang indah untuk tempat tinggal, tetapi hawa Batavia agaknya selalu panas bagi orang Belanda. Sejak itu banyak diantara mereka mencari tempat-tempat peristirahatan di luar kota yang hawanya lebih sejuk, seperti yang dilakukan van Imhoff mendirikan pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg (san souci, tanpa urusan). Nama Buitenzorg kemudian dipakai untuk menyebut perkampungan yang ada disekitarnya.


Pada waktu mulai dibangun, rancangan bentuknya bukanlah seperti Istana Bogor yang kita kenal sekarang. Van Imhoff membuat sketsa bangunan itu dengan mengambil model Istana Blenheim, tempat kediaman Duke of Marlborgh dekat kota Oxford, di Inggris. Ia rajin membangunnya, tetapi sampai ia diganti pada tahun 1750, bangunan itu masih jauh dari selesai. Malahan pembrontakan rakyat Banten antara tahun 1750-1752, mengakibatkan pesanggrahan van Imhoff menjadi korban. Pada tahun 1752 pasukan-pasukan Banten menyerang Kampoeng Baroe dan membakar semua yang dapat dimakan api. Rakyat Banten merasa dirugikan karena daerah Cisadane yang banyak memberikan hasil bumi telah diserahkan kepada Kompeni atau Ratu Syarifah, yang menguasai Kesultanan Banten pada waktu itu. Terjadilah pembrontakan di bawah pimpinan Kiai Tapa dan ratu bagus Buang, dua pahlawan yang bertempur dengan gagah berani melawan Kompeni tetapi akhirnya terpaksa kalah dan menyingkir kearah timur, perjanjian pada akhir perang tersebut menetapkan bahwa Kesultanan Banten menjadi rampasan Kompeni.


Akibat serangan pasukan-pasukan Banten, pesanggrahan di Butenzorg mengalami kerusakan sangat besar. Pengganti van Imhoff, Yacob Mossel, membangun kembali dengan tetap mempertahankan bentuknya yang semula, sebab seorang anggota Dewan Hindia menasehatkan agar bentuknya jangan dirubah mengingat bangunan Buitenzorg adalah replica dari istana Blenheim.

 

foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor foto Istana Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar