Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Kotak Dapat Hadiah Bikin Klip di Amerika Serikat

Dinobatkan sebagai Penampil Terbaik dalam ajang Soundrenaline 2012, Kotak mendapat hadiah untuk membuat video klip di Amerika.

Pada festival musik yang diadakan 3 November 2012 lalu, Kotak diberi penghargaan sebagai Penampil Terbaik karena dianggap bisa mengaplikasikan tema dari acara tersebut yakni Rhythm Revival atau kebangkitan musik berkualitas di Indonesia.

Kotak pun meramunya dengan tema The Journey of Rock Band. Tidak disangka ide ini malah membawa keberuntungan bagi Tantri, Chua dan Cella. Pasalnya mereka memenangkan penghargaan tersebut dan berhak atas pembuatan video klip di Amerika.

“Kita dapat hadiah buat bikin video klip di luar negeri. Tapi belum tahu untuk lagu yang mana, yang pasti dari album Kotak Terbaik,” ujar Tantri saat berbincang di Kantor i-Radio, Jakarta, Selasa (6/11/2012).

Tantri pun merasa sangat bersyukur dengan hadiah yang diterimanya tersebut, karena tema yang ingin disampaikan mereka kepada pengunjung bisa diterima dengan baik.

“Sebenarnya kemarin ada tema Rhythm Revival yang bisa menginspirasi mereka. Terus kita bikin deh temanya The Journey of Rock Band. Penampilan kita sebenarnya sempat dipotong, akhirnya kita ubah konsep lagunya jadinya seperti malam itu. Alhamdullilah yang terpilih Kotak. Tema itu nyampe,” ungkapnya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Eddie Van Halen: 'Ibu Saya Orang Indonesia, Rangkasbitung'


image
Van Halen dalam sesi wawancara bersama vokalis David Lee Roth (Sumber: van-halen.com)
Jakarta - Sudah lama kita tahu jika dua bersaudara pendiri band legendaris Van Halen memiliki darah keturunan Indonesia, namun siapa yang tahu jika ibunda mereka lahir di Banten?

Sebuah wawancara unik dan santai yang dilakukan oleh vokalis David Lee Roth dengan dua bersaudara gitaris Eddie dan drummer Alex Van Halen yang diunduh ke situs resmi Van-Halen.com beberapa hari lalu secara tak terduga banyak membahas tentang asal-usul orangtua mereka selama tinggal di Indonesia yang saat itu masih menjadi koloni Belanda.

Menanggapi pertanyaan Lee Roth, Eddie bercerita bahwa orang yang paling berambisi menjadikan mereka berdua sebagai musisi justru sang ibunda, Eugenia, yang setengah keturunan Indonesia dan setengah Belanda.

”Jika kalian akan mengikuti jejak ayah (menjadi musisi) maka lakukanlah dengan terhormat, belajar piano klasik,” ujar Eddie menirukan kata-kata ibunya.

”Dari mana ibu kalian berasal?” tanya Lee Roth lagi.

”Indonesia,” jawab Eddie lagi.

Lee Roth yang tampaknya masih penasaran kemudian bertanya bagaimana ayah mereka Jan Van Halen yang asli keturunan Belanda bisa bertemu dengan ibu mereka yang tinggal jauh di Indonesia.

”Karena ia keliling dunia untuk bermain musik....” jawab Eddie lagi.

”Di Indonesia?” tanya Lee Roth terkejut.

“Ya.”

“Apakah kalian pernah berkunjung ke sana?”

”Belum pernah,” ujar keduanya.

”Kalian bisa berbahasa Belanda?”

”Ya, tapi tidak bahasa Indonesia, kecuali beberapa kata saja [tertawa],” imbuh Eddie.

Alex kemudian bercerita bahwa ayah mereka pergi ke Indonesia karena terikat kontrak radio selama enam minggu awalnya namun malah memanjang sampai enam tahun. Menurutnya ayahnya sangat senang dengan iklim tropis di sana dan kemudian bertemu dengan perempuan Indonesia yang kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Ketika Indonesia kemudian merdeka semua orang asing yang berada di negara tersebut hijrah ke Belanda, termasuk kedua orang tua Eddie dan Alex.

Yang cukup mengejutkan adalah ketika Lee Roth bertanya dari daerah mana di Indonesia ibu mereka berasal.

Eddie menjawab seraya tertawa, ”Rangkasbitung.”

”Apa artinya itu?” tanya Lee Roth heran.

”Itu nama kotanya, tempat dimana ibu saya dilahirkan,” jelas Alex lagi.

Walau tentunya hal ini masih sangat dipertanyakan namun jika menilik sejarahnya, kota Rangkasbitung yang merupakan ibukota Lebak (kini bagian dari propinsi Banten) memang pada era penjajahan dulu banyak dihuni oleh orang-orang Belanda.

Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Douwes Dekker, seorang asisten residen Belanda di Rangkasbitung yang menerbitkan novel terkenal Max Havelaar yang gamblang menggambarkan pahitnya kondisi kehidupan masyarakat di sana.

Pada 7 Februari lalu Van Halen baru saja merilis album terbaru mereka sejak 14 tahun lalu yang berjudul A Different Kind of Truth. Ini merupakan kolaborasi studio rekaman untuk yang pertama kalinya lagi bersama vokalis pertama mereka David Lee Roth setelah 28 tahun yang lalu. Selain merilis album baru mereka rencananya juga akan menggelar tur konser kembali.

Kamis, 11 Oktober 2012

The Rythm Kings (1967)




The Rythm Kings (1967)

Rhythm Kings yang berdiri tahun 1967 dipimpin Darmawan Purba (gitar), kemudian pada saksofon Darma Purba, Raja Muda (keyboard), Darmawi Purba (bas), dan Yahya (drum).
Grup yang mengandalkan vokalnya pada trio Darma, Darmawan, dan Darmawi ini pada tahun 1972 sudah menghasilkan rekaman lagu-lagu pop, seperti Kasih Bersemi, Permohonanku, Kisah Asmara, Sepatah Kata, dan Permohonan Terakhir. Pada awal tahun 1970-an, lagu rock berlirik bahasa Indonesia baru ditemukan lewat rekaman grup Bandung, Giant Step. Sayang, rekaman ini bergeming di pasar sehingga grup rock lainnya hanya bersedia diproduksi sebuah perusahaan rekaman jika merekam lagu-lagu sweet atau pop. Rhythm Kings termasuk yang paling banyak menghasilkan album rekaman dibandingkan dengan dua saingan beratnya. Dalam usianya yang ke delapan pada tahun 1975, grup ini telah menghasilkan tujuh album termasuk satu album lagu Batak Karo.

Keterangan lain mengenai Rhytm Kings

Diawal 70-an Surabaya boleh saja bangga punya AKA dan Bandung  punya Rollies serta Rhapsodia yang nyaris menguasai panggung pertunjukan pada masa itu tapi Medan-pun punya Rhythm Kings yang berdiri pada tahun  1967 kelompok anak anak muda yang awalnya bermain musik pada acara tujuhbelasan dimana saat itu mereka belum mempunyai nama untuk groupnya itu yang ada hanyalah nama Rhythm King pada drum yang digebuk oleh  Reynold Panggabean yang mana kemudian masyarakat menjuluki mereka sebagai group Rhythm Kings yang kemudian nama itu membawa berkah dan menjadikan mereka sebagai The First Class Band In Town. Rhythm Kings pada awalnya terdiri dari Reynold Panggabean (drum), Taruna Said (gitar), Darma Purba (saksofon) dan Darmawi Purba (bass), mereka sering membawakan lagu The Monkeys, Tilman Brother, Otis Reding, The Papas & The Mamas dan The Shadows serta fifth Dimension entah sudah berapa kali sejak berdirinya Rhythm Kings ini mengalami pergantian pemain dari sejak berdirinya hingga tahun 1970 dimana pada akhirnya mereka mengalami perggantian yang mereka rasakan pas dengan masuknya Radja Muda Nasution mantan keyboardist Group The Amateurs dan Yahya mantan drummer The Fingers.

PH mereka pertama direkam di Singapura hasil petunjuk dan kerja sama dengan John Tangkau (mantan composer Rollies) pada tahun 1970 mereka terdiri dari  Darmawan Purba (gitar), Darma Purba (saksofon), Raja Muda Nasution (keyboard), Darmawi Purba (bass), dan Yahya (drum).Orientasi mereka dalam memilih lagu-lagu group luar-pun telah berubah total,Rhythm Kings berubah menjadi group hard rock bilamana mereka dipanggung mereka menyanyikan lagu-lagu Led Zeppelin, Deep Purple,Uriah Heep, BS&T, Chicago dan Yes, memang Rhythm Kings merupakan group rock elite dari Medan.Darma, Darmawi dan Darmawan adalah anak-anak ‘The Have’ karena ayah mereka Madja Purba adalah walikota Medan saat itu .

Terncem - Taruna Cemerlang

60’s – 70’s era : It was all started in Manahan

Pada dekade 60an, di kawasan Manahan, Solo, muncul sekelompok anak muda gondrong yang sering berlatih main musik di dalam garasi sebuah rumah.  Musik yang dimainkan tergolong keras pada jaman itu. Dan berhubung mereka berlatihnya di sebuah garasi rumah (karena  saat itu belum dikenal adanya rental studio latihan di Solo) maka suara musik yang mereka mainkan pun bisa terdengar sampai ke jalanan di sekitar rumah mereka. Banyak orang yang kemudian berkerumun untuk menonton kelompok band beranggotakan lima personil ini berlatih. Orang – orang kemudian mengenal band dari Manahan ini dengan nama Taruna Cemerlang atau Terncem.  Dengan menggunakan alat musik yang sebagian merupakan buatan sendiri dan peralatan sound yang disetel sekeras mungkin setiap kali berlatih, Terncem menandai lahirnya scene musik rock di kota Solo pada penghujung dekade 60an dengan banyak memainkan karya – karya musisi rock barat masa itu macam Deep Purple, Jimi Hendrix, The Who dan Grand Funk Railroad. Band yang punya vokalis nyentrik bernama Bernard Parnadi ini kemudian merangsek menjadi salah satu band rock yang dikenal punya aksi panggung fenomenal dalam percaturan musik rock Indonesia pada akhir 60an hingga dekade 70an berbarengan dengan nama – nama tenar lain seperti  Giant step (Bandung), AKA (Surabaya) dan God Bless (Jakarta). Pada dekade 70an pamor band – band rock manca negara seperti Blue Cheer, Deep Purple, Led Zeppelin dan Black Sabbath memang sangat mendominasi yang pada akhirnya menginspirasi anak – anak muda di Indonesia untuk membentuk band – band rock sejenis.
Terncem yang pada awal 70an sudah mulai dikenal di luar kota kelahirannya pun tak mau kalah dengan koleganya di kota lain. Terncem dikenal dengan aksi panggungnya yang kerap menampilkan aksi teatrikal seperti membawa ular dan mengusung peti mati ke atas panggung atau bermain – main dengan api. Vokalis Bernard Parnadi pernah melakukan aksi membakar topi yang dipakainya. Terncem juga mulai melakukan rekaman pada tahun 1970 dan menghasilkan album pertamanya berjudul Deremaco. Lagu – lagu di album tersebut sangat kuat nuansa hardrocknya yang sebenarnya pada saat itu masih belum banyak pendengarnya di Indonesia. Meski demikian, album ini sempat melejitkan sebuah hit berjudul Jaman Edan. Sepanjang karirnya, Terncem merekam album sebanyak tiga kali hingga tahun 1975. Konser – konser band asal Solo ini selalu ramai. Konser mereka pada masa itu tidak hanya berkutat di pulau Jawa saja, mereka bahkan bergerak sampai  ke kota – kota di Sumatera.  Setiawan Djody pernah bergabung dengan Terncem dalam beberapa konser, namun ketika Terncem hendak merekam album perdananya, Setiawan Djody keluar karena harus pergi ke Amerika. Dalam setiap konser, vokalis Bernard Parnadi dikenal dengan teriakan khasnya yaitu : “ I’ll bring you…..FIRE!! “ setiap kali mengawali konser . Sesaat setelah Bernard berteriak, api akan menyala di panggung diikuti intro lagu “Fire” milik Arthur Brown yang biasa mereka gunakan sebagai opening song.
Memasuki akhir dekade 70an, Solo kembali memunculkan sebuah band rock yang cukup dikenal.  Namanya Destroyer. Band yang terbentuk pada pertengahan 70an ini gemar menggunakan mercon sebagai bagian aksi panggungnya. Mercon yang digunakan tidak tanggung – tanggung, sehingga sampai pernah membawa petaka. Sebuah catatan menyebutkan bahwa dalam sebuah pertunjukan pada tahun 1976, Destroyer pernah membawa sebuah lonceng besar berisi serbuk mercon yang akan dinyalakan pada saat mereka beraksi di panggung. Entah bagaimana ceritanya, serbuk mercon dalam lonceng itu meledak ketika para tehnisi tengah berusaha menghidupkan kembali peralatan di atas panggung yang basah oleh hujan yang turun sebelum pertunjukan. Lonceng berisi serbuk mercon itu pecah berantakan dan kepingannya melukai beberapa orang.
Selain Destroyer dan Terncem, pada tahun 70-an Solo juga punya satu lagi band rock lain yang cukup dikenal yaitu Yap Brothers. Band ini meski lebih populer sebagai band disko, namun perjalanan karir Yap Brothers juga tak lepas dari genre musik rock. Tak berbeda dengan Terncem, Yap Brothers juga banyak memainkan lagu – lagu band barat seperti Led Zeppelin dan Deep Purple. Band yang terdiri atas Chris Yaputranto , Indrianto Yaputranto, Eduardo Yaputranto, Iwan Yaputranto, dan Iwan Murjanto ini sempat menghasilkan beberapa album rekaman. Terncem dan Yap Brothers sering dianggap sebagai dua band yang krusial dalam perkembangan musik rock di kota Bengawan.
Era 60 dan 70an bisa dibilang merupakan era dimulainya perkembangan scene musik rock di kota Solo. Meski tak mampu melahirkan band – band yang long – lasting, namun keberadaan Terncem, Destroyer dan Yap Brothers cukup menunjukan bahwa Solo juga ikut bergerak bersama kota – kota lainnya dalam kancah musik rock di Indonesia pada era 60 dan 70an, meski ironisnya pada dekade 80an Solo justru agak melempem dalam melahirkan band – band rock yang berkualitas.

The Tielman Brothers

The Tielman Brothers
adalah sebuah grup musik tertua asal Indonesia[1]. Mereka adalah anak dari Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess asal Semarang. Musik mereka beraliran rock and roll, namun orang-orang di Belanda biasa menyebut musik mereka Indorock, sebuah perpaduan antara musik Indonesia dan Barat, dan memiliki akar di Keroncong. The Tielman Brothers merupakan band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk internasional pada 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones.
The Tielman Brothers pernah tampil di Istana Negara Jakarta dihadapan Presiden Soekarno . Karier rekaman mereka dimulai ketika keluarga Tielman pada tahun 1957 hijrah dan menetap di Breda, Belanda. Nama The Tielman Brothers lebih dikenal di Eropa, terutama Belanda. Di Indonesia sendiri nama The Tielman Brothers masih menjadi nama yang asing, sebuah kenyataan yang sangat disayangkan.

Aksi panggung The Tielman Brothers yang atraktif
The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.