Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Sawarna, Surga Tersembunyi di Banten

Sedikit lebih jauh dari Anyer, Banten punya pantai yang tak kalah cantik dan eksotis. Tengok sendiri keindahan Desa Sawarna dan nikmati surga tersembunyi dari Banten.

Sawarna merupakan salah satu desa di Kecamatan Lebak, Kabupaten Bayah Provinsi Banten. Desa ini menyimpan banyak tempat wisata yang masih sepi sehingga bisa dibilang sebagai surga tersembunyi.

Siapa sangka Provinsi Banten punya tempat wisata bagus yang belum diketahui banyak orang. Saat ini orang lebih mengenal Banten karena Pantai Anyer, Carita, Karang Bolong dan tempat pemandian Air panas Cikoromoy. Tapi tahukah Anda, jika di kawasan Lebak, Banten, tepatnya di Desa Sawarna ada tempat yang memiliki keindahan luar biasa.

Panorama keindahan alam di desa ini cukup menawan. Objek wisatanya sering dikunjungi oleh para wisatawan dari mancanegara. Miris memang, kita sebagai tuan rumah di Indonesia ini belum pernah mendengarnya, justru turis mancanegara yang lebih dulu tahu dari kita semua.

Pantai-pantai di Bayah merupakan satu dari sekian banyak tempat di Indonesia berlabel 'hidden paradise' atau surga tersembunyi yang belum tersentuh oleh industri Pariwisata. Hanya orang-orang punya minat khusus mau datang ke sini. Termasuk saya sebagai backpacker pemula, yang penasaran dengan keindahan Pantai Sawarna.

Informasi Pantai Sawarna saya dapatkan secara tidak sengaja ketika mencari tempat wisata menarik dan masih 'perawan' di internet. Lalu munculah Sawarna yang menawarkan keindahan alami, tercipta dari birunya air laut, bersihnya pantai dan banyaknya pematang sawah terhampar di kawasan ini.

Jalan raya menuju tempat wisata ini sudah memadai. Sepanjang jalan kita akan disuguhkan pemadangan pantai dengan pasirnya yang putih. Belum lagi rimbunan hutan karet dan hutan tropis sebelum benar-benar masuk ke dalam area pantai.

Tetapi lagi-lagi sangat disayangkan, Pemerintah kota belum menggarap potensi wisata ini secara serius. Hal ini bisa dilihat dari beberapa jalan yang rusak dan belum disediakan transportrasi khusus untuk sampai ke tempat ini. Padahal jika digarap secara serius dan profesional, Sawarna bisa seperti Bali.

Ada beberapa tempat yang bisa Anda kunjungi selain ke Pantai Sarwana, yaitu Karang Taraje, Pulau Manuk, Tanjung Layar dan Goa Lalay. Sulit unutk bisa menceritakan keindahan Karang Taraje. Hampir seluruh pantai ditempat ini dipenuhi oleh karang-karang cantik, hasil pahatan alam.

Karang-karang di pantai ini terbentuk selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun lalu. Untuk Anda yang hobi memotret, karang di tempat ini sangat cocok sekali dijadikan sebagai objek untuk mengolah berbagai gaya yang Anda inginkan. Belum lagi kolam-kolam kecil dipenuhi ikan-ikan kecil yang terdapat di tengah-tengah karang, sungguh sangat mengagumkan.

Selanjutnya Pulau Manuk. Jika di Pantai karang Taraje bibir pantainya dipenuhi karang, maka di Pulau Manuk ini kebalikannya. Justru di sepanjang bibir pantai dipenuhi pasir putih yang terhampar luas. Tidak jauh dari pinggir pantainya terdapat pulau kecil yang bisa dijangkau melalui perahu nelayan atau menyusuri karang dengan jalan kaki.

Pantai Pasir di Pulau Manuk ini bersih sekali. Tidak ada sampah yang tampak satu pun. Di tempat ini, Anda tidak akan menemukan penjual aksesoris atau penjaja makanan lainnya. Karena pantai ini salah satu pantai yang belum dijadikan tempat wisata resmi oleh Pemda setempat atau istilahnya masih wisata liar.

Yang ketiga adalah Tanjung Layar. Inilah puncak keindahan dari semua tempat Wisata di Sawarna. Untuk bisa masuk ke dalam pantainya, kita harus melewati jembatan rakit yang terbuat dari bambu diikat dengan tali. Jika Anda pernah mendengar atau melihat berita anak-anak di Lebak yang harus melewati sungai untuk ke sekolah, maka seperti itulah jembatannya. Hanya saja, bedanya, jembatan di Sawarna ini masih bagus dan layak untuk dilewati.

Setelah melewati Jembatan Rakit, mata kita akan disuguhkan pemandangan vila yang baru saja berdiri hasil pembangunan penduduk setempat, vila ini sengaja dibangun untuk memanjakan wisatawan yang mulai banyak berdatangan dan ingin menginap. Informasi yang saya dapat, harga penginapannya tidak mahal, semalam dikenakan Rp 120.000/per kepala dan dapat makan 3 kali.

Perjalanan menjadi lebih menarik setelah melewati hunian penduduk. Mata dan bibir saya tidak berhenti bersyukur dan mengagumi ciptaan Allah. Bagaimana tidak, sepanjang jalan mendekati pantai, kedua mata saya sudah melihat hamparan laut luas bak permata safir kebiru-biruan.

Belum lagi pemadangan dari jalan setapak kurang lebih lebar 1 meter yang diapit pematang sawah. Selesai pematang sawah, masih ada kebun kacang para petani di Desa Sawarna ini, puas melewati kebun barulah saya tiba di Pantai Tanjung Layar.

Dinamakan Tanjung Layar karena terdapat dua bukit mirip Layar Kapal di tengah Pantainya. Untuk mendekati bukit ini juga tidak susah, karena airnya dangkal dan banyak karang yang bisa membantu untuk menuju ke sana.

Di belakang dua bukit ini, saya terpesona dengan hempasan ombak yang membentuk karang setinggi tiga meter lebih. Setiap deburan ombak yang membentur karang, menghempaskan air yang terbawa angin menghampiri wajah saya. Sungguh sangat menakjubkan.

Keadaan di Pantai Tanjung Layar ini tidak jauh beda dengan Pantai Pulau Manuk. Pantai cenderung masih bersih dan hanya terdapat 3 warung yang menyajikan berbagai makanan kecil dan kelapa muda.

Sebenarnya masih banyak tempat keindahan lainnya di Sawarna, salah satu yang paling menarik adalah Goa Lalay (kekelawar). Tetapi karena waktu saya terbatas untuk kembali ke Jakarta secepatnya, saya pun mengurungkan niat mengunjunginya. Saya berjanji lain waktu pasti aku kunjungi semua.

Jika Anda salah satu orang yang tertarik mengunjungi Sawarna, ada beberapa jalur yang bisa Anda lewati untuk bisa ke sana. Bila Anda membawa kendaraan pribadi, bisa melalui jalur Serang atau Sukabumi.

Jalur via Serang bisa ditempuh sekitar 6 jam dengan rute Jakarta - Serang - Pandeglang “ Malimping - Lebak - Desa Sawarna. Sedangkan Rute Sukabumi bisa melalui Pelabuhan Ratu dan terus lurus hingga tembus ke kawasan Sawarna ini.

Apabila Anda seorang backpacker, perjalanan dimulai dari Terminal Kalideres ke Terminal Serang (Pakupatan) dengan tarif bus Rp. 15.000. Kemudian dilanjutkan menggunakan mobil Damri ke Terminal Lebak Rp 25.000 (mobil hanya ada pukul 11.30 WIB). Dari Terminal Lebak bisa dilanjutkan numpang mobil penduduk atau naik ojek.

Kamis, 17 Januari 2013

Petilasan Sri Aji Joyoboyo

Petilasan Sri Aji Joyoboyo

kediri Petilasan Sri Aji Joyoboyo adalah sebuah petilasan atau tempat semedi raja dari kerajaan Kediri, yaitu Raja Joyoboy. Selain sebagai Raja Kediri pada abad XII, Joyoboyo juga terkenal dengan kitab " JONGKO JOYOBOYO " yang berisi tentang ramalan-ramalan kejadian di masa yang akan datang.Petilasan ini merupakan situs bersejarah yang terletak di 15 Km dari pusat kota Kediri.
Selayaknya tempat bersejarah, petilasan ini banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin melihat beberapa peninggalan seperti, Sendang Tirto Kamandanu, Palinggihan Mpu Mharadah dan Arca Totok Kerot. Selain itu, banyak pula yang mengunjungi untuk berziarah, dengan puncak kunjungan terjadi pada 1 Suro, pada kalender Jawa.

Gereja Puh Sarang

kediri Puh Sarang atau Poh Sarang, adalah Gereja Katolik Roma yang terletak di desa Pohsarang, Kecamatan Semen, tepatnya berada di kaki gunung Wilis. Puh Sarang didirikan pada tahun 1936 oleh Romo Jan Waolters CM dengan arsiteknya Henri Mclaine Pont.
Dua tokoh ini, merupakan 2 tokoh hebat pada jamannya yang berhasil menggabungkan dua elemen yang berbeda untuk membentuk satu gereja yang unik dan indah. Dua elemen tersebut datang dari keindahan arsitektur Jawa dan dikawinkan dengan layaknya sebuah bangunan Gereja dengan banyak simbolisme untuk katekese iman Katolik.
Pada kawasan Puh Sarang ini terdapat beberapa spot kunjungan yang selalu ramai, baik pengunjung yang ingin berdoa ataupun hanya untuk melihat dan menikmati suasana sejuk dan teduh. Beberapa titik kunjungan tersebut adalah: Goa Maria Lourdes, Jalan Salib Bukit Golgota dan Taman Kana. Selain itu, terdapat juga lahan untuk berkemah di Bukit Tabor, Gedung serbaguna untuk mereka yang ingin mengadakan acara misa atau acara lain diluar kegiatan keagamaan serta Wisma Betlehem dan Wisma Hening untuk mereka yang ingin menginap.

Kamis, 01 November 2012

Candi Agung Amuntai

Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran Sungai, Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.

Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.

Banyak pengunjung yang datang ke Candi Agung Amuntai untuk sekadar berekreasi. Banyak pula yang bertujuan ziarah. Maklum di areal candi ini terdapat makam kuno. Kalau anda ke Kota Amuntai, luangkan waktu untuk melihat candi ini. Meski berbeda dengan candi yang ada di Jawa, namun keberadaannya jelas memberikan wawasan baru bagi anda.

Keterangan tambahan:

Candi Agung Amuntai merupakan sebuah situs candi Hindu peninggalan Kerajaan Nagaradhipa (Nagara Dipa). Candi Agung Amuntai terdapat di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
Candi Agung Amuntai dibangun oleh Ampu Jatmaka (Ampu Jatmika) abad ke-14. Menurut Hikayat Banjar, Ampu Jatmika berasal dari Keling. Ia tiba di tanah Banjar bersama armada Prabayaksa, sekitar tahun 1355 . Veerbek berpendapat bahwa Keling, yang termasuk kerajaan vasal dari Majapahit, terletak di barat daya Kediri, bukan Kalingga di India. Paul Michel Munos dalam Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Senanjung Malaysia (401 dan 435), menulis bahwa Ampu Jatmika mendirikan Nagaradhipa pada 1387 dan berasal dari Majapahit. Diduga Ampu Jatmaka menjabat sebagai mantri sakai di Nagaradhipa, bukan sebagai raja Nagaradhipa. Hal ini terjadi, seperti telah disinggung di atas, karena Ampu Jatmika bukan keturunan bangsawan dan bukan pula keturunan raja Kuripan (kerajaan sebelum era Nagaradhipa). Dengan begitu, Ampu Jatmaka diperkirakan hanya sebagai Penjabat Raja atau Pemangku Kerajaan.

Menurut cerita, Kerajaan Hindu Nagaradhipa berdiri pada 1438 di persimpangan tiga aliran sungai: Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar ini diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Mangkubumi (Patih) Lambung Mangkurat. Negaradhipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan candi ini pun masih terdapat di sana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.
Banyak pengunjung yang datang ke Candi Agung Amuntai untuk sekadar berekreasi. Banyak pula yang bertujuan ziarah. Maklum di areal candi ini terdapat makam kuno. Kalau Anda ke Kota Amuntai, luangkan waktu untuk melihat candi ini. Meski berbeda dengan candi yang ada di Jawa, namun keberadaannya jelas memberikan informasi tentang keberadaan candi di Kalimantan.
Hikayat Banjar
Hikayat Banjar diwariskan secara tuttur lisan yang sampai saat ini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat Banjar. Orang-orang “modern” akan menganggap cerita hikayat ini tak lebih sebagai sebuah dongeng karena banyak kejadian yang diceritakan di dalamnya berada di luar jangkauan akal manusia. Namun, ternyata dari Hikayat Banjar ini diperoleh keterangan tentang keberadaan Candi Agung Amuntai dan Candi Laras (Margasari Rantau) yang tentu merupakan informasi berharga sebagai pijakan untuk melakukan penelusuran terhadap keberadaan dua candi tersebut.
Alkisah, seperti dituturkan dalam Hikayat Banjar, sebuah pelayaran dilakukan oleh Ampu Jatmaka dengan armada Prabayaksa. Ampu Jatmaka merupakan seorang saudagar dari Keling, yang sebelum pergi diwasiati oleh orangtuanya agar ia harus bersinggah di suatu wilayah yang berhawa panas, dan akhirnya ia menyinggahi Amuntai karena hawanya dirasa sesuai dengan wasiat itu. Karena Ampu Jatmaka menganggap dirinya hanya seorang pedagang bukan anak raja, ia membangun sebuah tempat untuk tinggal yang sekarang dinamakan Candi Agung. Dan untuk melambangkan dirinya sebagai raja maka ia membuat sebuah patung replika dirinya yang pembuatnya langsung didatangkan dari Cina.
Ampu Jatmaka memunyai dua orang anak: Ampu Mandastana dan Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat ). Kemudian Lambung Mangkurat dijadikan Patih Kerajaan. Suatu saat Lambung Mangkurat berpikir bahwa tidak lengkap kalau Kerajaan Dipa tidak memunyai seorang raja. Karena itu ia bertapa di daerah Ulu Banyu (kini Sungai Nagara) selama 40 hari 40 malam dan pada malam terakhir pertapaannya sebuah petunjuk gaib datang bahwa ia harus menyediakan 40 jenis makanan dan 40 jenis kue beserta iringan dayang-dayang yang berpakaian serba kuning melambangkan kemewahan pada Kerajaan Dipa pada saat itu. Setelah itu Lambung Mangkurat kembali ke istana untuk menyediakan semuanya. Setelah semua sesaji dan dayang-dayang sudah disiapkan di tempat ia bertapa, tak lama kemudian muncul buih yang memunculkan seorang putri yang akhirnya dijadikan raja perempuan di Kerajaan Dipa dan diberi nama Putri Junjung Buih.
Ampu Mandastana, saudara Lambung Mangkurat, memunyai dua orang anak yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga. Mereka ternyata tertarik dengan Putri Junjung Buih yang terkenal cantik Luar biasa dan keanggunannya tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Karena merasa kedua keponakannya tidak sesuai untuk sang putri, Lambung Mangkurat membunuh kedunya di sebuah danau sekitar kerajaan sehingga sekarang disebut “Lubuk Badangsanak” (Danau Berdarah) yang bisa kita lihat sampai sekarang di Candi Agung Amuntai.

Sumber Bacaan
“Candi Agung”. [Online]. Terdapat di http://www.hulusungaiutara.go.id/component/content/article/1-info-pariwisata/2-candiu-agung.html [04/08/2010]
“Candi Agung”. [Online]. Terdapat di. http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Agung [04/08/2010]
Tim Wacana Nusantara. 2010. “Kerajaan Nagaradhipa (Nagara Dipa)”.  [Online]. Terdapat di. http://www.wacananusantara.org/0/704/kerajaan-nagaradhipa-(nagara-dipa)?mycustomsessionname=4f748b2fda80fb17f77f5ea25d628420 [04/08/2010]
………….“Hikayat Banjar Nagara Dipa (Amuntai) dan Nagara Daha”. [Online]. Terdapat di. http://miabu.wordpress.com/2009/03/07/hikayat-banjar-nagara-dipa-amuntai-dan-nagara-daha/

Rabu, 31 Oktober 2012

Masjid Sultan Suriansyah


Sejarah Kota Banjarmasin tidak akan bisa dipisahkan dari Sultan Suriansyah, pendiri dan raja pertama kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Salah satu bukti peninggalannnya adalah Masjid Sultan Suriansyah. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota. Selain dengan angkutan darat, kita juga bisa mengunjungi masjid ini dengan menggunakan transportasi sungai karena masjid ini juga terletak di pinggir Sungai Kuin.

Masjid dengan arsitektur kuno ini masih kokoh berdiri hingga sekarang, didalamnya kita bisa melihat ornamen-ornamen khas banjar. Didalam masjid juga terdapat sebuah Mimbar Kuno yang masih digunakan oleh khatib untuk khutbah Jum’at. Walaupun tidak terlalu besar, masjid Sultan Suriansyah adalah saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa.
Tidak jauh dari Masjid, kita juga dapat melihat Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Masyarakat banyak yang datang untuk berziarah ke makam ini, apalagi pada hari-hari libur. Dikomplek makan ini juga terdapat sebuah museum kecil tempat menyimpan peninggalan sejarah kerajaan Banjar.

Kampung Sasirangan Banjarmasin


Kampung Sasirangan adalah tempat pembuatan batik khas Banjarmasin yaitu kain sasirangan dimana pembuatan batik ini masih menggunakan cara tradisional seperti kerajinan batik di pulau jawa. 
Kampung Sasirangan terletak di Jalan Seberang Masjid Kelurahan Kampung Melayu, sejak 2010 telah dijadikan salah satu obyek wisata souvenir kerajinan kain dan busana sasirangan. Pembentukan kampung sasirangan oleh Dinas Pariwisata Pemkot Banjarmasin ini bertujuan memudahkan pembeli sekaligus sarana pembinaan kepada usaha mikro kecil dan menengah.

Kain Sasirangan

Kain Sasirangan ini asal mulanya digunakan atau dipercaya untuk kesembuhan bagi orang yang tertimpa suatu penyakit (pamintaan). Kain ini dipakai pada upacara adat suku daerah Banjar. Kain sasirangan ini berbentuk laung (ikat kepala), kekamban (kerudung) dan tapih bumin (kain sarung). Sebagai bahan pewarna diambil dari bahan bahan pewarna alam seperti jahe, air pohon pisang, daun pandan dll.
Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa, di Kalimantan Selatan telah dikenal masyarakat sejenis batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Menurut cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat.
Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan.
Sebagai bahan baku kainnya, yang banyak digunakan hingga saat ini adalah bahan kain yang berasal dari serat kapas (katun). Hal tersebut disebabkan karena pada mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang lain seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku cukup meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.
Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh beberapa faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang/jenis bahan pengikat.
Dengan mengkombinasikan antara motif-motif asli yang satu dengan motif asli yang lainnya, maka kain kain sasirangan makin menarik dan kelihatan modern Selain itu motif-motif tersebut dimodifikasi sehingga menciptakan motif-motif yang sangat indah namun tidak meninggalkan ciri khasnya. Adapun corak atau motif yang dikenal antara lain Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Turun Dayang, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, Sarigading, Parada dll.
Produk barang jadi yang dihasilkan dari kain Sasirangan yaitu Kebaya, Hem, Selendang, Jilbab, Gorden, Taplak Meja, Sapu Tangan, Sprei dll. Penggunaan Kain Sasirangan inipun lebih meluas yaitu untuk busana pria maupun wanita yang dipakai sehari-hari baik resmi atau tidak.

Makam Pangeran Antasari

 
Pangeran Antasari adalah salah satu Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan yang turut berperang melawan penjajah Belanda untuk membela wilayah Kalimantan Selatan. Pangeran Antasari lahir di Banjarmasin tahun 1809. Walau seorang ningrat, ia sangat merakyat. Karenanya, ia sangat paham pen­deritaan rakyat di bawah jajahan Belanda.
Pangeran Antasari dibantu beberapa ke­pala daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pelaihari, Kahayan. Kapuas dan lani-lain berte­kad mengusir Belanda dari Kerajaan Banjar. Takterelakan, perang pun terjadi pada 18 April 1859. Pada Pertempuran itu Belanda men­dapat kesulitan.
Pada Oktober 1862. ia merencanakan serangan besar-besaran ke benteng Belanda. Kekuatan sudah dikumpulkan. Namun, saat itu wabah cacar menyerang. Pangeran Antasari pun terkena hingga merenggut nyawanya. Ia meninggal dunia di Bayan Begak (Kalsel) pada 11 Oktober 1862 dan dimakamkan di Kelurahan Sungai Jingah Banjarmasin Utara. Dan ditempat tersebut dibangun Komplek pemakaman Pahlawan Nasional  dengan nama Komplek Makam Pangeran Antasari, ditempat tersebut juga terdapat makam Ratu Antasari yang merupakan isteri Pangeran Antasari serta makam Pahlawan lainnya seperti Panglima Batur yaitu panglima perang pengikut setia Pangeran Antasari, Hasanuddun HM ( Hasanuddin bin Haji Madjedi ) yaitu pahlawan Ampera didaerah ini seorang mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang wafat tahun 1966.

Taman Siring Martapura

Taman Siring Sungai Martapura berada di pinggir Sungai Martapura, tepatnya diseberang Kompleks Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Jl. Jendral Sudirman Banjarmaasin. Taman Siring Sungai Martapura dibangun pada tahun 2004 . Hal ini membuat objek wisata ini, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi anda untuk bersantai dan bercengkrama dengan keluarga atau sesama teman.
Kota Banjarmasin yang identik dengan Kota Seribu Sungai rasanya tidak lengkap anda kunjungi jika tidak sempat ke Taman Siring Sungai Martapura. Dengan   akses yang mudah dan tanpa biaya masuk, tempat ini layak masuk dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika di Banjarmasin.
Pada Akhir pekan,  tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh warga Banjarmasin. Baik hanya sekedar untuk bersantai atau hanya sekedar menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari. Tempat ini juga dijadikan tempat hang out bagi para muda – mudi Banjarmasin.

Pasar Terapung Banjarmasin

 
Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Suasana dan kegiatan pasar

Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Potensi wisata


Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.

Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.

Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.

Pasar Terapung Buatan

Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel) akan membangun pasar terapung tradisional yang selama ini berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin ke sungai kerokan jalan Zafi Zam-Zam.
Gagasan membangun pasar terapung buatan tersebut bertujuan untuk memudahkan wisatawan yang ingin menyaksikan pasar terapung tanpa harus jauh-jauh ke muara kuin. Selain itu kita juga ingin melestarikan dan terus membina para pedagang pasar terapung yang kini terus berkurang.
Sebagaimana diketahui, untuk bisa menyaksikan pasar terapung para wisatawan harus rela bangun sebelum subuh untuk menuju ke sungai Barito Muara Kuin Banjarmasin dengan mengendarai kapal kayu bermesin atau disebut kelotok.
Wisatawan pun juga harus rela menembus dinginnya suasana pagi dengan perjalanan sekitar setengah jam dari dermaga pemberangkatan yang terletak di depan masjid bersejarah Sultan Suriansyah.
Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan enggan untuk bisa menikmati eksotiknya wisata pasar terapung, karena terlambat sedikit pasar yang kini pedagangnya terus berkurang tersebut telah bubar.
Dengan adanya pasar terapung yang aksesnya lebih mudah terjangkau oleh wisatawan akan mampu menyedot wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara lebih banyak lagi datang ke Banjarmasin.
Saat ini pasar terapung masih merupakan wisata andalan Kalsel, yang bila tidak dijaga kelestariannya dikhawatirkan akan menghilang tergerus oleh pasar-pasar modern.
Sekarang ini antara wisatawan dan pedagangnya lebih banyak wisatawannya, sehingga bila kondisi ini dibiarkan dikhawatirkan lama kelamaan pasar terapung tinggal menjadi sejarah.
Tentang kunjungan wisatawan di Kalsel, berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kalsel jumlahnya terus bertambah. Namun bertambahnya jumlah tersebut apakah murni wisatawan atau tamu yang kebetulan berkunjung untuk tugas atau perjalanan dinas atau memang ingin menyaksikan wisata Kalsel.

Pantai Amal Tarakan

 PANTAI Amal Tarakan sering dikunjungi berbagai lapisan masyarakat untuk sekadar refreshing menikmati keindahan pantai sambil bercengkerama atau melepas lelah sehabis bekerja dan beraktivitas. Jadi sekalipun bukan masa liburan, pantai ini tetap ramai dikunjungi dan menjadi salah satu pantai kebanggaan masyarakat Tarakan. Pantai ini berada di bagian timur Kota Tarakan dan merupakan nama salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Tarakan Timur, dalam konteks sejarah Pantai Amal merupakan lokasi pendaratan pertama tentara Jepang di Indonesia pada tahun 1942. Pantai ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh kurang lebih 11 km dari pusat kota dalam waktu kurang lebih 20 menit.
Pantai Amal Tarakan sering dibedakan antara Pantai Amal Lama dan Pantai Amal Baru yang sebetulnya satu garis pantai memanjang ± 12 KM tidak memiliki pasir putih seperti pantai di beberapa kawasan wisata di pulau Bali maupun pantai Indonesia lainnya. Namun, memiliki pesona pariwisata yang layak menjadi target dalam daftar kunjungan wisata Anda. Saat cuaca sedang cerah, keindahan alam akan tampak secara jelas di pesisir pantai kawasan ini. Wisata Pantai Amal juga menawarkan kuliner khas kota Tarakan hasil olahan makanan laut. Bila anda berkunjung ke Pantai Amal sangat disayangkan bila tidak mencicipi kuliner Kapah rebus (sejenis kerang) yang dipadukan dengan sambal dadakan (sambal mentah). Kapah tersebut bisa dikonsumsi langsung tanpa nasi atau menjadi lauk nasi, pecinta kuliner akan dimanjakan dengan tekstur kenyal dan gurih dari panganan seafood tersebut. Selain kapah, masih ada udang goring/ rebus, pisang dan singkong goreng yang dipadukan dengan sambal kacang. Pesona ini tentu memiliki daya tarik Wisata kuliner yang sudah menjadi buah bibir, tidak hanya bagi masyarakat Tarakan namun juga bagi masyarakat sekitar pulau Tarakan.

Rabu, 24 Oktober 2012

Cagar Alam Mutis

Cagar Alam Mutis PDF Print E-mail
  Cagar Alam Mutis
  
  



A. Selayang Pandang
Cagar Alam Gunung Mutis merupakan salah satu obyek wisata andalan yang dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kawasan wisata ini terkenal dengan gunung-gunung batu marmernya yang oleh masyarakat setempat disebut Faut Kanaf atau batu nama. Di bawah Faut Kanaf, terdapat sumber-sumber mata air yang disebut Oe Kanaf atau air dari batu. Air yang bersumber dari Faut Kanaf tersebut mengalir menuju satu titik dan membentuk dua buah DAS (Daerah Aliran Sungai), yang oleh masyarakat disebut DAS Benain dan DAS Noelmina. Kedua DAS ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Timor Tengah Barat sampai hari ini.
Kawasan wisata yang berjarak sekitar 140 km sebelah timur laut dari Kota Kupang ini memiliki luas wilayah sekitar 12.000 hektar dan dihuni oleh salah satu suku tertua di Nusa Tenggara Timur, yaitu Suku Dawan.

B. Keistimewaan
Berkunjung ke Kawasan Wisata Cagar Alam Gunung Mutis sungguh menarik. Sejuta flora dan fauna hidup di dalamnya. Kawasan Wisata Gunung Mutis memiliki tipe vegetasi yang merupakan perwakilan hutan homogen dataran tinggi. Kawasan ini juga didominasi berbagai jenis ampupu (eucalyptus urophylla) yang tumbuh secara alami dan jenis cendana (santalum album). Selain itu di sini dapat ditemui berbagai jenis pohon lainnya seperti hue (eucalyptus alba), bijaema (elacocarpus petiolata), haubesi (olea paniculata), kakau atau cemara gunung (casuarina equisetifolia), manuk molo (decaspermum fruticosum), dan oben (eugenia littorale).




Ada juga jenis tumbuh-tumbuhan seperti salalu (podocarpus rumphii), natwon (decaspermum glaucescens), natbona (pittospermum timorensis), kunbone (asophylla glaucescens), tune (podocarpus imbricata), natom (daphniphylum glauceccens), kunkaikole (veecinium ef. varingifolium), tastasi (vitex negundo). Kemudian ada juga manmana (croton caudatus), mismolo (maesa latifolia), kismolo (toddalia asiatica), pipsau (harissonia perforata), matoi (omalanthus populneu), dan aneka jenis paku-pakuan dan rumput-rumputan.



Selain kaya dengan flora, kawasan wisata Mutis juga menyimpan aneka fauna khas Pulau Timor. Di kawasan ini, pengunjung dapat menyaksikan rusa timor (cervus timorensis), kus-kus (phalanger orientalis), babi hutan (sus vitatus), biawak (varanus salvator), biawak timor (varanus timorensis). Di kawasan ini juga terdapat ular sanca timor (phyton timorensis), ayam hutan (gallus-gallus), punai timor (treon psittacea), betet timor (apromictus jonguilaceus), pergam timor (ducula cineracea), dan perkici dada kuning (trichoglosus haematodus).

Pemandangan menarik lainnya yang dapat disaksikan adalah cara suku-suku asli di kawasan wisata ini untuk menafkahi hidupnya. Dengan memanfaatkan dahan dan ranting pohon-pohon besar, penduduk setempat membuatkan rumah bagi lebah hutan penghasil madu. Dari madu lebah hutan ini, masyarakat dapat berharap banyak untuk menopang kehidupan ekonominya, selain dari hasil ternak dan pertanian.



Daftar Jenis Burung yang ada di gunung mutis :

  • Ducula cineracea
  • Turacoena modesta
  • Macropygia magna
  • Trichoglossus euteles
  • Psitteuteles iris
  • Aprosmictus jonquillaceus
  • Halcyon australasia
  • Saxicola gutturalis
  • Zoothera dohertyi
  • Zoothera peronii
  • Buettikoferella bivittata
  • Phylloscopus presbytes
  • Cyornis hyacinthinus
  • Gerygone inornata
  • Pachycephala orpheus
  • Heleia muelleri
  • Lichmera flavicans
  • Myzomela vulnerata
  • Meliphaga reticulata
  • Philemon inornatus
  • Erythrura tricolor
  • Oriolus melanotis
  • Sphecotheres viridis
C. Lokasi
Secara geografis, Cagar Alam Gunung Mutis terletak di wilayah Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.


     

D. Akses
Untuk mencapai Mutis perjalanan dimulai dari Kota Kupang menuju SoE, kota Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan jarak 110 km dan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam. Dari SoE, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang bus menuju Kapan, Kota Kecamatan Mollo Utara. Dari Kapan, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Fatumnasi, sebuah desa yang berada di lereng Gunung Mutis dan merupakan pintu masuk untuk memasuki kawasan wisata ini. Perjalanan sejauh 15 km dengan menggunakan bus tersebut akan mengantarkan pengunjung memasuki kawasan wisata Gunung Mutis yang sungguh mempesona itu.

Jumat, 19 Oktober 2012

Lorong seperti Subway di Taman Nasional di AS

Cantiknya 'subway' di Zion National Park (Zion National Park)

Ternyata subway tidak hanya ada di kota besar. Buktinya sebuah taman nasional di Amerika Serikat juga punya jalur ala kereta bawah tanah. Ya, walaupun tidak ada keretanya.

Selain Grand Canyon sebagai tempat di mana AS menyimpan pesona alamnya, ternyata ada juga Zion National Park. Berada di sebelah selatan Utah, taman nasional ini bisa ditempuh sekitar 5,5 jam dari pusat kota. Tentu waktu tersebut bukanlah perjalanan yang lama demi melihat 'surga'.

Malah perjalanan tersebut bisa dikatakan sangat singkat, karena di sepanjang perjalanan Anda akan disuguhkan banyak sekali pemandangan indah. Salah satunya dari Fishlake National Forest dengan jejeran gunungnya yang memesona. Layangkan pandangan jauh ke depan, karena di situlah keindahan alam jelas tersaji untuk Anda.

Sesampainya di Zion National Park, langsung saja menuju tangga yang akan mengantarkan Anda ke dataran yang lebih rendah. Terus telurusi jalan tersebut hingga nanti Anda seperti masuk ke dalam sebuah terowongan panjang. Beberapa traveler menyebut terowongan ini sebagai 'subway', seperti yang detikTravel kutip dari situs resmi Zion National Park, Jumat (19/10/2012).

Memang tak ada kereta yang melintas di sini. Yang ada hanya batuan granit berukuran besar dan kelembapan di setiap permukaannya. Ada juga aliran sungai yang kecil yang melintas di terowongan ini. Ikuti saja sungai tersebut, karena itu adalah 'rel' di 'subway' ini.

Terowongan ini tak seluruh bagian atasnya tertutup. Di beberapa bagian ada yang terbuka dan membiarkan cahaya matahari masuk. Nah, di bagian terbuka itu, coba perhatikan sungai yang mengalir tadi. Uniknya, air yang mengalir ini bukan berwarna bening atau coklat, seperti layaknya air di dalam gua, tapi justru berwarna-warni.

Walaupun di dominasi dengan warna hijau, sungai kecil ini punya warna lain, seperti biru, merah, cokelat, kuning, hingga ungu. Tak ada yang tahu mengapa sungai ini bisa berwarna begitu indah.

Puaskanlah menyaksikan peristiwa alam tersebut sebelum melanjutkan perjalanan kembali, tapi jangan juga habiskan waktu terlalu lama di sini, sebab di depan sana masih ada pemandangan indah lainnya. Dengan trekking di 'subway' ini, Anda bisa menemukan berbagai hal indah lainnya. Di beberapa tempat, jalur ini sangat luas bagai ruangan besar. Tapi di tempat lainnya bisa menjadi sangat sempit, bahkan satu orang pun harus berjalan miring.

Kurang menantang? di beberapa tempat, terdapat jalur sempit yang tidak mungkin Anda lewati dengan berjalan kaki, karena bagian bawahnya adalah sungai kecil yang cukup dalam. Nah, di sini jiwa petualang Anda akan ditantang. Anda harus melewati jalur ini dengan bergelantungan pada seutas tali untuk bisa sampai di seberangnya. Pegang erat-erat, jika tidak Anda pasti akan terpeleset dan tercebur.

Di beberapa titik lainnya, Anda juga bisa menemukan tali yang sudah diikatkan pada sebuah batang pohon di atas. Dari sini, Anda bisa memanjat dinding untuk menemukan pemandangan indah lainnya di luar 'subway'.

Anda ingin yang segar? Zion National Park juga punya banyak air terjun. Mulai dari yang hanya setinggi 1 meter hingga puluhan meter pun ada di sini. Nikamti kesegaran airnya setelah lelah seharian menjelajah taman nasional ini. Liburan menyenangkan di satu tempat, siapa yang tidak mau!
 

Rabu, 17 Oktober 2012

Danau Semayang Dan Danau Melintang


Danau Semayang dan Danau Melintang terletak tidak jauh dari Kota Bangun. Dua Danau ini akan menyatu saat arus air Sungai Mahakam turun. Tapi saat air Sungai Mahakam naik di waktu malam hari, dua danau ini terpisah.
Danau Semayang berada di sebelah kiri dan Danau Melintang disebelah kanan.
Didua danau ini wisatawan dapat menikmati pemandangan hamparan air sungai yang tenang dan juga kicauan burung. Keindahan alam ini mencapai puncaknya pada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Seolah- olah matahari terbit dan tenggelam ditengah rimba Pulau Kalimantan. Didua danau ini juga terdapat spesies ikan pesut yaitu lumba-lumba air tawar yang sangat jarang dijumpai.
Selain sebagai kawasan wisata alam, Danau Semayang dan Danau Melintang juga dijadikan sumber mata pencaharian bagi penduduk Desa Semayang Kenohan dan Desa Pela.

Kawasan Wisata Bukit Bengkirai

Kawasan Wisata Bukit Bengkirai terletak pada Km 38 jalan raya Soekarno Hatta Balikpapan Samarinda, merupakan kawasan wisata alam berupa hutan alami yang masih asli. Kawasan wisata alam ini berada di areal PT. Inhutani I Unit Manajemen Hutan Tanaman Industri (UMHTI) dan diresmikan pada tanggal 14 Maret 1998 oleh Mantan Menteri Kehutanan Ir. Djamalluddin Suryohadikusumo. Merupakan kawasan yang berperan penting untuk mengembangkan monumen hutan alam tropika basah.

Canopy Bridge (Jembatan Tajuk),merupakan jembatan yang menghubungkan pohon canopy satu dengan pohon canopy yang lain setinggi 25-30 meter dari permukaan tanah dengan panjang keseluruhan 64 meter dan menguhubungkan 5 pohon Bangkiray. Dari atas jembatan dapat dilihat formasi Tajuk Tegakan Dipterocarpaceae sebagai ciri dari Hutan Hujan Tropis yang cukup indah dan membentuk stratum atas yang saling sambung menyambung.

 Pada Kawasan Bukit Bangkiray terdapat rumah panjang yang dapat di pergunakan untuk ruangan sarasehan atau ruang serba guna yang berbentuk rumah adat dayak dengan kapasitas 50-70 orang.
Cottages dan Restaurant terdapat 5 cottages bergaya rumah adat panggung dengan fasilitas yang lengkap.
Jalan Setapak (Trek), merupakan sarana Adventure Jungle untuk menjelajahi kawasan Hutan Bangkiray,dilengkapi dengan fasilitas untuk mengamati flora / fauna yang unik dan langka seperti beruang madu , jenis-jenis burung, babi hutan, monyet dan lainnya. Serta aneka ragam flora seperti jenis-jenis Anggrek dan tanaman langka lainnya.
Jungle Tracking, dengan 7 Trek yang panjangnya 150 meter s/d 6 Kilometer.
Pondokan (Shelter), sebagai tempat istirahat dan makan bersama, juga sebagai tempat untuk mengamati satwa-satwa liar.
Jungle Cabin dan Mini Canopy Bridge, merupakan bangunan yang bernuansa alam dan berada di dalam hutan
Sarana Olahraga dan Bumi Perkemahan (Camping Ground), antara lain Tennis Court,Volley Ball,renang,sepeda dan lain-lain
Aktivitas Outbound (Team Building)
Program Adopsi Pohon, merupakan program yang mengajak pihak luar berpartisipasi menjadi orangtua asuh terhadap pohon yang tubuh dan berada di Kawasan Bukit Bangkiray dengan cara membayar iuran untuk keperluan pemeliharaan pohon tersebut.
Pada Kawasan Bukit Bangkiray terdapat rumah panjang yang dapat di pergunakan untuk ruangan sarasehan atau ruang serba guna yang berbentuk rumah adat dayak dengan kapasitas 50-70 orang.
Cottages dan Restaurant terdapat 5 cottages bergaya rumah adat panggung dengan fasilitas yang lengkap.
Jalan Setapak (Trek), merupakan sarana Adventure Jungle untuk menjelajahi kawasan Hutan Bangkiray,dilengkapi dengan fasilitas untuk mengamati flora / fauna yang unik dan langka seperti beruang madu , jenis-jenis burung, babi hutan, monyet dan lainnya. Serta aneka ragam flora seperti jenis-jenis Anggrek dan tanaman langka lainnya.
Jungle Tracking, dengan 7 Trek yang panjangnya 150 meter s/d 6 Kilometer.
Pondokan (Shelter), sebagai tempat istirahat dan makan bersama, juga sebagai tempat untuk mengamati satwa-satwa liar.
Jungle Cabin dan Mini Canopy Bridge, merupakan bangunan yang bernuansa alam dan berada di dalam hutan
Sarana Olahraga dan Bumi Perkemahan (Camping Ground), antara lain Tennis Court,Volley Ball,renang,sepeda dan lain-lain
Aktivitas Outbound (Team Building)
Program Adopsi Pohon, merupakan program yang mengajak pihak luar berpartisipasi menjadi orangtua asuh terhadap pohon yang tubuh dan berada di Kawasan Bukit Bangkiray dengan cara membayar iuran untuk keperluan pemeliharaan pohon tersebut.  
Keanekaragaman Flora :

  • Pohon Bangkiray, merupakan maskot utama dari Bukit Bangkiray.
  • Koleksi Anggrek, yaitu Anggrek Hitam,Anggrek Tebu, Anggrek Mata, Anggrek Bintang, Berpijar dan lain-lain.
  • Kebun buah-buahan Hutan, yaitu Buah Manggis, Buah Mentega, Buah Lai, Buah Rambai Palembang, Ramania dan Buah Kalangkala.
Keanekaragaman Fauna :

  • Burung – burung,terdapat 113 jenis Burung antara lain Punai, Kirik-Kirik Biru, Kacep, Murai Batu, Sepah dan lain-lain.
  • Jenis fauna lainnya seperti Owa-owa,Beruk,Lutung Merah,Monyet Ekor Panjang, Babi Hutan dan Bajing Terbang.
  • Pengakaran Rusa,jenis yang ditangkarkan adalah Rusa Sambar.
Juga ada Program Tanaman Memorial yang merupakan suatu bentuk respon bagi pengunjung yang ingin memiliki kenangan-kenangan setelah berkunjung ke wisata Bukit Bangkiray dengan cara menanam di areal yang telah disediakan oleh Pengelola Kawasan Bukit Bangkiray.

Minggu, 14 Oktober 2012

Perahu Bidar


Dahulu kala Kota palembang di kelilingi 108 anak sungai dengan Sungai Musi sebagai induknya. Untuk menjaga keamanan wilayah diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu yang disebut dengan perahu pancalang, berasal dari kata Pancal berarti lepas landas dan lang/ilang berarti menghilang. Makna pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.
Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu bidar. Agar terjaga kelestarian perahu bidar, digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut wong doeloe dengan sebutan “kenceran”.
Perahu ini dikayuh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang. Perahu ini memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Karena dapat memuat banyak orang, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan pancalang untuk plesiran.
Gambaran bentuk pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage. Dalam buku itu disebutkan Pancalang perahu tidak berlunas, selain sebagai perahu penumpang, ia juga dijadikan sarana untuk berdagang di sungai. Atapnya berbentuk kajang, kemudinya berbentuk dayung dan digayung dengan galah atau bambu.

Kini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. Ada dua jenis yang kini dikenal. Pertama, perahu bidar berprestasi. Perahu ini memiliki panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm, dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung, 1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang. Jenis kedua perahu bidar tradisional. Perahu ini memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm, dan lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air.
Perahu ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam puncak acara Festival Musi. Festival Musi terkadang juga diikuti dengan lomba perahu hias, lomba bidar mini dan renang alam. Ribuan penonton menyaksikan lomba tersebut dari kedua sisi sungai dan Jembatan Ampera.


Senin, 01 Oktober 2012

Raja Ampat

 
Tahukah kamu? Ada lebih dari 600 jenis terumbu karang dan lebih dari 1200 jenis ikan yang ada di Raja Ampat Indonesia.

Tak heran jika tempat ini sering disebut sebagai terumbu karang terindah di dunia.
Selama ini banyak wisatawan domestik, terutama yang berasal dari Jakarta, enggan pergi ke Raja Ampat, Papua Barat. Hal ini karena isu mahalnya penginapan yang dikelola pihak asing di sana. Padahal, dengan cara backpacker, kita bisa pergi ke Raja Ampat.
Para backpacker yang ingin pergi ke Kepulauan Raja Ampat, rajin-rajinlah membuka situs jalur pesawat Jakarta-Sorong pada waktu bukan musim liburan. Untuk menuju Sorong, Anda bisa melihat situs penerbangan Batavia Air, Wings Air, dan Express Air. Sekitar Rp 3 juta harga tiket Jakarta-Sorong pergi-pulang dengan waktu tempuh tujuh jam karena transit di Makassar sekitar dua jam.
Dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Anda bisa berjalan kaki keluar bandara. Di luar bandara akan dijumpai jalan utama menuju kota Sorong dan pelabuhannya. Di sana banyak sekali angkutan kota warna kuning menuju Pelabuhan Sorong, cukup dengan ongkos Rp 3.000.
Di pelabuhan, Anda bisa naik kapal rakyat menuju ibu kota Raja Ampat. Kapal rakyat dengan biaya Rp 120.000 per orang berlayar tiap hari sekitar pukul 14.00 WIT. Usahakan pesawat Anda datang di Sorong sebelum pukul 12.00 WIT sehingga Anda bisa istirahat dahulu menunggu kapal berangkat. Perjalanan dengan kapal rakyat dari Sorong menuju Raja Ampat perlu waktu sekitar dua jam.
Di Waisai, Pulau Waigeo, ibu kota Raja Ampat, Anda bisa mencari hotel-hotel dengan harga Rp 300.000-Rp 400.000 per malam. Untuk keperluan diving dan eksplorasi berlayar ke pulau-pulau Raja Ampat, Anda bisa menyewa perahu penduduk asli.
Di Sorong terdapat banyak hotel bagus berbintang dua dan tiga yang menyediakan makanan dengan nasi dan lauk-pauk beragam. Para wisatawan domestik yang ingin tetap menginap di Sorong karena fasilitas tersebut bisa melakukan perjalanan satu hari tanpa perlu menginap di Waisai.
Untuk melakukan hal ini, Anda perlu menyewa speedboat sekitar Rp 8 juta per hari dengan kapasitas 20 orang per kapal. Anda harus mengumpulkan 20 orang sehingga cukup patungan Rp 400 ribu per orang sudah bisa berlayar ke Raja Ampat selama 12 jam penuh pada siang hari.
Mulai pukul 07.00 WIT sampai petang Anda bisa berlayar ke empat sampai lima pulau yang berdekatan. Mulai dari Selat Dampir, Pulau Pensil, Gua Karang yang ada tengkorak makam leluhur Raja Ampat, sampai ke Resor Sorido atau langsung ke Kepulauan Wayag.  Kepulauan Wayag merupakan ikon Raja Ampat yang terdiri dari beberapa pulau kecil yang indah apabila dilihat dari atas.
Jika Anda ingin melihat suasana resor yang dikelola bule, Anda diperbolehkan mampir dan parkir di dermaganya. Anda bisa melihat keindahan pantainya yang putih bersih dan air lautnya yang sangat bening sehingga karang dan ikan bisa dilihat langsung dari dermaga.
Pulau kecil di seberang dermaga Sorido yang terhubung dengan pantai pasir putih dan laut lepas sangat indah dilihat. Pemandu dari resor akan mengantar Anda melihat suasana penginapan dan  sekitar pulau yang banyak ditumbuhi pohon pandan bali yang sudah tua dan subur.
Kami sempat mampir di salah satu resor dengan tarif Rp 2 juta per orang per kamar. Kami melihat kamarnya memang indah dengan pemandangan pantai dan laut lepas kebiruan yang bisa dilihat dari dari jendela dan pintu. Fasilitas makan, tidur, dan pemandu untuk diving diberikan bagi tamu yang menginap di resor tersebut. Kebersihan kamar dan resornya sangat terjaga. Sekali-sekali ada burung bangau laut yang berjalan di resor. Untuk menginap di resor tersebut, Anda hanya perlu mengirim e-mail dan tanda jadi. Kedatangan Anda akan disambut di Pelabuhan Sorong.
Apabila Anda menginap di Sorong, baik seafood, seperti ikan, kepiting, dan udang bakar, maupun fastfood banyak dijumpai di restoran dan warung-warung tenda di Sorong. Ikan khas Sorong adalah ikan budara. Ikan ini memiliki banyak sekali daging dan tulangnya besar sehingga jarang ada duri kecil yang bisa tersangkut di tenggorokan.
Oleh-oleh khas Sorong adalah keripik talas atau keladi, roti abon gulung dari ikan tuna, dan ikan budara bakar. Untuk suvenir, di Kampung Baru, Sorong, banyak dijumpai toko yang menjual batik khas Papua, seperti corak panah, burung cendrawasih, dan tifa. Suvernir berupa koteka dan ukir-ukiran Asmat juga dapat Anda jumpai di beberapa toko suvenir di Sorong.
Untuk malam hari di Sorong, di sepanjang Pantai Tembok banyak dijumpai warung tenda yang menjual berbagai macam seafood, ayam bakar, dan coto makassar. (Asita Suryanto)