Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Tjilik Riwut: Pahlawan Dayak-Nasional

Pahlawan Dayak-Nasional

Seorang yang bangga akan tanah leluhurnya serta selalu menyatakan dirinya sebagai "orang hutan" karena ia lahir dan tumbuh besar di belantara hutan Kalimantan. Ia lahir di Katunen, Kasongan, tepatnya Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Ia adalah seorang yang mencintai alam dan dan seorang yang mempunyai pendirian yang kuat yang dapat melihat sekitarnya dengan dasar yang kokoh terutama mengenai budaya Dayak.

Ketika Ia menginjak usia remaja, ia sering pergi seorang diri menuju Bukit Batu, untuk bertapa. Pada waktu melakukan pertapaan inilah ia memperoleh petunjuk pertama kali yang mengarahkannya untuk menyeberangi lautan menuju ke Pulau Jawa. Pada jaman dulu bisa dibayangkan keterbatasan sarana transportasi apalagi sarana komunikasinya sangatlah sulit. Unruk mencapai pulau Jawa ia tak kenal lelah dan putus asa, halangan serta rintangan dianggapnya sebagai pemacu semangat untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Segala macam cara ia coba untuk melakukannya baik itu ia harus berjalan kaki menerobos lebatnya belantara Kalimantan, menyusuri sungai menggunakan perahu maupun rakit, agar ia dapat mencapai pulau Jawa di seberang laut sana. Akhirnya, ia pun sampai juga di Banjarmasin, sekarang ibukota Kalimantan Selatan, dan di sinilah ia mendapatkan pekerjaan yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan, yaitu Pulau Jawa.

Pada awal perjalanan karirnya (1940) di mulai menjadi seorang pemimpin redaksi majalah Pakat Dayak bersama "Suara Pakat". Koresponden Harian Pemandangan, pimpinan M. Tambran. Dan juga koresponden Harian Pembangunan, pimpinan Sanusi Pane, seorang sastrawan Indonesia angkatan pujangga baru. Ia juga menjadi salah seorang tokoh yang mewakili 142 suku Dayak yang berada di pedalaman Kalimantan (185.000 jiwa) yang menyatakan diri dan melaksanakan Sumpah Setia dengan upacara adat leluhur suku Dayak kepada pemerintah Republik Indonesia (17 Desember 1946). Ia adalah putra Dayak yang menjadi seorang anggota KNIP (1946 - 1949). Ia juga berjasa dalam memimpin Operasi penerjunan Pasukan Payung yang pertama kali dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik indonesia (17 Oktober 1947), tepatnya di desa Sambi, Pangkalanbun. Dengan pasukan MN 1001. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Khas TNI-AU.

Dalam suatu kesempatan, ia akhirnya dapat pulang kembali ke tanah leluhurnya, dan kembali bertapa di Bukit Batu. Pada pertapaannya kali ini ia memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk perjuangannya melawan penjajah yang pada saat itu sedang "bertengger" di Indonesia. Dalam kesempatan itu ia pun bernazar untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah ia selesai melakukan pertapaanya, ia memperoleh suatu benda, yaitu sebuah batu yang berbentuk seperti daun telinga. Petunjuk yang ia peroleh sewaktu bertapa mengatakan bahwa batu yang ia peroleh itu dapat dipergunakan untuk mendengar dan memantau musuh apabila di letakkan berdekatan dengan daun telinganya. Namun setelah kemerdekaan Indonesia, batu itu pun gaib keberadaannya.

Sebagai seorang pejuang yang sangat mencintai kebudayaan leluhurnya, ia sangat fanatik dengan angka 17, yaitu angka kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Karena begitu menyatunya dengan angka 17 ini pada dirinya maka sebagaian besar kehidupannya dipengaruhi oleh angka 17, berikut beberapa contohnya.

1. Pelaksanaan sumpah setia 142 suku di pedalaman Kalimantan yang ia wakili kepada pemerintah Republik Indonesia secara adat dihadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung, Yogyakarta 17 Desember 1946.
2. Desa Pahandut yang merupakan cikal bakal dari ibukota Kalimantan Tengah, yaitu Palangka Raya. Merupakan desa yang ke-17 yang dihitung dari sungai Kahayan.
3. Peletakkan batu pertama kota Palangka Raya yang melambangkan perjuangan yang telah memberikan hasil kepada masyarakatnya, pada tanggal 17 Juli 1957.
4. Ia menjadi gubernur yang pertama bagi provinsi yang ke-17, yaitu provinsi Kalimantan Tengah
5. Kelahiran provinsi Kalimantan Tengah tepat pada masa pemerintahan Republik Indonesia Kabinet yang ke-17.

Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1987, putra terbaik Dayak ini tutup usia dalam usia 69 tahun di Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Begitu banyak jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh seorang putra Dayak ini, bahaya pun selalu mengintai keselamatannya. Namun berbekal keyakinan teguh serta semangat yang membara akan cita-cita yang telah lama diimpikannya, ia pun melakukan tugasnya tanpa kenal lelah apalagi kata menyerah dalam dirinya. Tidaklah kecil jasa seorang Tjilik Riwut kepada bangsa Indonesia. Haruslah generasi sekarang ini mengenang jasa-jasanya agar dapat memetik keteladanan, kegigihan serta perjuangan hidupnya agar dapat dijadikan panutan bagi kita.

Atas jasa-jasanya yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia serta membangun provinsi Kalimantan Tengah maka, pada masa pemerintahan presiden B.J. Habibie, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. untuk mengingat jasa seorang Tjilik Riwut, putra Kasongan sungai Katingan ini diabadikan pada berbagai tempat di Kalimantan Tengah, diantaranya bandara Palangka Raya, jalan terpanjang di Kalimantan yang menghubungkan kota Palangka Raya hingga daerah Kotawaringin.

Rabu, 24 Oktober 2012

SOBE SONBAI III

SOBE SONBAI III
 


Sobe Sonbai III adalah seorang raja Timor yang sangat berpengaruh. Ia berkedudukan sebagai Kaiser Kerajaan Oenam dengan ibukota Kauniki di kecamatan Fatuleu sekarang.

Ia adalah sau-satunya raja yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda. Oleh karena itu dengan segala cara Belanda berusaha untuk menaklukan Sobe Sonbai III. Hal ini diketahui pula oleh Sobe Sonbai III. Karena itu Sobe Sonbai III bersama seluruh rakyat dan para “Meo” (panglima perang) mulai membangun benteng-benteng pertahanan. Mereka membangun tiga benteng yaitu Benteng Ektob di desa Benu, Benteng Kabun di desa Fatukona dan Benteng Fatusiki didesa Oelnaineno.
 
Setiap benteng ini dijaga ketat oleh meo-meo dari setiap suku. Meo yang paling terkenal disebut “Meo Naek” atau panglima besar. Meo Naek Sobe Sonbai III bernama Toto Smaut. Perang melawan Belanda dimulai pada bulan September tahun 1905. Perang ini dimulai di desa Bipolo, kecamatan Kupang TImur sekarang. Karena perang ini dikenal dengan perang bipolo hingga sekarang. Perang ini terus berlanjut dari benteng ke benteng sehingga banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Benteng terakhir yang direbut oleh pihak Belanda adalah benteng Fatusiki. Pertempuran di benteng ini berlangsung sengit karena dipimpin langsung oleh Sobe Sonbai III dan Meo Toto Smaut yang gagah perkasa. Tapi karena Belanda memakai senjata modern maka benteng Fatusiki dapat direbut. Sobe Sonbai III akhirnya ditangkap, lalu dibawa ke kupang dan dibuang ke Waingapu. Setelah mendengar bahwa Sobe Sonbai III ditangkap oleh belanda, maka Toto Smaut menyerah demi kesetiaan pada rajanya.
 
Toto Smaut dibuang ke Aceh, kemudian dibawa ke Makasar sebagai prajurit Belanda perang Bone. Karena jasanya dalam perang Bone, Toto Smaut dikembalikan ke kupang, dan diangkat menjadi Temukung besar di Fatuoni sampai akhir hidupnya. Untuk memperingati perjuangan Sobe Sonbai III, maka di Kupang didirikan sebuah patung. Patung Sobe Sonbai III ini terletak di salah satu jalan protokol di Kupang yaitu Jalan Urip Sumoharjo di Kelurahan Merdeka.

Adanya patung ini terasa tidak cukup untuk menghargai dan menghormati pengorbanan dan patriotisme perjuangan Sobe Sonbai III bersama para “Meo” dan rakyatnya yang sangat heroik. Sebab kerajaan Sonbai adalah kerajaan Tradisional yang terbesar dipulau Timor pada masa itu. Wilayah kekuasaan kerajaan Sonbai memanjang dari Miomafo di Kabupaten Timor Tengah Utara sekarang sampai Fatuleu di Kabupaten Kupang. Oleh karena itu, kerajaan Sonbai sangat ditakuti oleh pemerintah Kolonial Belanda.
 
Sebab kerajaan ini merupakan tantangan besar untuk dapat menguasai pulau Timor. Inilah sebabnya pengorbanan dan semangat serta nilai-nilai perjuangan Sobe Sonbai III harus terus dilestarikan dalam dada setiap putra-putri Timor di Nusa Tenggara Timur. Pada umumnya, pengorbanan dan semangat juang seperti ini, kini sangat diperlukan untuk mengisi kemerdekaan yang dipertaruhkan Sobe Sonbai III hingga akhir hayatnya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kampung Inggris Di Pare

Kampung inggris atau kampung bahasa adalah sebutan buat Dusun Singgahan, Desa Pelem, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, dimana ada puluhan tempat kursus bahasa asing berada. Hal ini tak lepas dari peran Muhammad Kalend Osen asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 20 Februari 1945. Di kampung halamannya Pak Kalend berprofesi sebagai guru namun profesi sebagai guru di Kalimantan tidak membuatnya puas untuk menimba ilmu. Hingga pada usia 27 tahun dia memilih melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa.
SEJARAH
3128 1003699869446 1733342038 2387 732397 n Kampung Inggris Di Pare
Pak Kalend
Pada tahun 1971 Pak Kalend belajar di Pondok Pesantren Modern Darusssalam, Gontor, Ponorogo. Di Gontor Kalend tidak sampai lulus hanya mengenyam pendidikan hingga kelas lima Kuliatul Muallimin Al Islamiyah (setara kelas dua SMA). Padahal saat itu usia Pak Kalend sekitar 31 tahun.
Sekitar tahun 1976, Pak Kalend datang ke Dusun Singgahan untuk belajar berguru kepada KH. Ahmad Yazid, tokoh agama setempat sekaligus pengasuh masjid dan Pondok Darul Falah. Kiai Yazid juga dikenal menguasai sembilan bahasa asing selain pengetahuan agama yang luas.
Sebenarnya Pak Kalend tidak sengaja memulai mengajar bahasa inggris. Saat itu ada dua mahasiswa semester akhir IAIN Sunan Ampel, Surabaya yang datang ke Pare untuk berguru bahasa inggris kepada Kiai Yazid. Kedua mahasiswa itu akan menjalani ujian akhir bahasa Inggris di kampusnya untuk mendapatkan gelar sarjana. Namun saat itu Kiai Yazid sedang keluar daerah, padahal ujian akhir tinggal lima hari lagi.
Akhirnya istri Kiai Yazid menyarankan mahasiswa tersebut untuk belajar bahasa Inggris kepada Pak Kalend. Pak Kalend pun memberanikan diri untuk mengajar dua mahasiswa itu, walau dia belum pernah mengenyam bangku kuliah. Akhirnya keduanya belajar bahasa Inggris bersama Kalend di Masjid Darul Falah selama lima hari untuk membahas 350 soal yang menjadi acuan untuk ujian bahasa Inggris dua mahasiswa itu.
Berbekal pelajaran dari Pak Kalend, kedua mahasiswa itu lulus dan menyandang gelar sarjana. Setelah ujian di IAIN Sunan Ampel Surabaya, kedua mahasiswa tersebut kembali berguru kepada Pak Kalend. Kisah sukses kedua mahasiswa itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Sejak saat itu banyak santri yang berguru kepada Pak Kalend. Akhirnya Pak Kalend mendirikan lembaga kursus yang diberi nama BEC, yang pada awalnya juga masih di serambi masjid. Pesertanya pun hanya remaja sekitar dan tanpa biaya.
Setelah BEC berdiri dan masyarakat luas mengetahui kampung inggris, bermunculan lembaga kursus lainnya yang berdampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Secara tidak langsung, penduduk sekitar sangat merasakan manfaat dari sisi ekonomi. Awalnya penduduk sekitar bermata pencaharian sebagai petani, sekarang penduduk dapat membuka usaha lain seperti rumah kos, warung, warnet, toko, counter handphone, fotokopi dan sebagainya.
Selain dari segi ekonomi dampak positif lainnya adalah tingkat pendidikan masyarakat makin tinggi, pengetahuan bahasa masyarakat secara tidak langsung juga bertambah.
Tempat Tinggal/Kos
Sekarang sangat mudah memilih tempat tinggal atau Kos di kampung inggris ini begitu banyak penduduk yang membuka Kos untuk tempat tinggal sementara selama belajar disana. Ada dua jenis kos yaitu Kos biasa dan kos english area. kos biasa adalah kos yang hanya untuk tempat tinggal menginap saja. Kos dengan label English area yaitu kosan yang juga memiliki program bahasa English untuk menunjang materi di tempat kursus. Di kos english area ini anda wajib menggunakan bahasa inggris dalam komunikasi sehari-hari. Bahkan ada pembimbing khusus dari tempat kursus yang yang ditugaskan melatih bahasa inggris didalam kos. Sebuah kombinasi yang bagus, di dalam kursus diajari materi dan praktek di dalam kehidupan sehari-hari juga dipraktekkan disertai pembimbing di dalam Kos!
kampung inggris kos Kampung Inggris Di Pare
salah satu Kos full english - kampung inggris pare
tarif kos pun super murah antara 50-100ribu. Makanan juga cukup murah rata-rata 3rb-5rb rupiah.

Lingkungan
Lingkungan di kampung inggris ini sangat kondusif. Untuk muslim disini mengharuskan anda untuk memakai Jilbab bagi perempuan dan bagi laki-laki memakai kemeja dan celana panjang. Apalagi di tempat kursus yang sangat disiplin seperti BEC. Di kampung inggris ini biaya hidup cukup murah, bahkan bisa dibilang sangat murah. Baik kos tempat tinggal ataupun makanan.
kampung inggris lingkungan Kampung Inggris Di Pare
sepeda adalah transportasi umum - kampung inggris pare
Tidak usah bingung untuk transportasi, tersedia persewaan sepeda untuk transportasi ringan, umumnya 50rb rupiah per bulan apalagi bila ditanggung rame-rame dengan teman se-kos. Kalau dari luar kota transportasi juga cukup mudah karena kampung inggris ini dilewati bus dari surabaya-tulungagung.
Tempat Kursus
Cukup sulit untuk menyebutkan nama satu persatu dengan begitu banyak lembaga kursus di kamoung inggris ini. Sebagai gambaran di BEC milik Pak Kalend, disana siswa benar-benar dituntut untuk disiplin dan kemauan belajar tinggi. Anda tidak bisa semaunya bolos tanpa ijin. bahkan bila tidak masuk 3 hari saja Siswa dikeluarkan. Menurut teman yang belajar disana, dia sangat puas dengan metode pengajarannya walaupun tingkat awalnya takut dengan aturan BEC yang cukup ketat. Kalau tidak mampu menempuh level dalam waktu ditentukan siswa bisa di keluarkan.
Umumnya pada saat musim liburan sekolah, kampung inggris ini diserbu pelajar yang ingin belajar bahasa inggris.
Kalau anda ingin model “santai” pilihlah yang model kuliahan, Siswa sendiri yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Dari tulisan diatas, tak salah bila Seputar indonesia menganugerahi Pak Kalend Osen sebagai  tokoh pendidik teladan dan mendapatkan penghargaan People  of The Year (POTY) 2009.
Pemilihan Kalend Osen sebagai  tokoh pendidik teladan hingga  mendapatkan penghargaan People  of The Year (POTY) 2009 dari  Seputar Indonesia bukan tanpa  alasan.

Kios Bensin Kejujuran

Bikin Bangga Kediri: Kios Bensin Kejujuran
kejujuran Bikin Bangga Kediri: Kios Bensin Kejujuran
Abdul Mukti Muraharjo (53) tidak tahu menahu tentang pro­gram pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Ia hanya bermaksud membantu masyarakat yang kehabisan bensin pada malam hari, sehingga membuka kios bensin kejujuran. Hanya saja balasan yang diterima justru banyak yang mengemplang, malah ada yang tega membayar dengan uang palsu.
Memang sulit menemukan orang yang benar-benar jujur. Itu dirasakan betul oleh Abdul Mukti Muraharjo yang membuka kios bensin kejujuran yang buka 24 jam di seberang rumahnya Jl Veteran, Kota Kediri.
Semenjak kios bensin kejujuran berdiri empat bulan silam, justru kerugian besar yang dialami. Tercatat kiosnya kehilangan 84 liter bensin yang tidak dibayar oleh pembeli. Selain itu delapan botol serta dua corong hilang diambil orang.
Selain itu, tidak semua pembeli membayar sesuai harga. Ada yang kurang dan bahkan membayar dengan uang palsu (upal). Ada juga pembeli berpakaian seragam pegawai negeri sipil (PNS) mengambil bensin dengan cara utang sampai sekarang belum dibayar. “Sebagai PNS mestinya punya penghasilan tetap, tapi kok teganya membeli bensin Rp 5.000 saja sampai sekarang belum dibayar,” tutur Abdul Mukti.
Kios bensin kejujuran milik Abdul Mukti menyediakan bensin botolan yang ditata berderet di sebelah toko tendanya. Sang pemilik membiarkan pembeli mengambil sendiri bensin dan diharapkan membayar dengan uang pas dengan cara memasukkan uang ke toples plastik yang telah disediakan.
Kios bensin kejujuran itu juga dipasang poster yang berisi panduan tata cara membeli. Di antaranya, pembeli diminta mengambil sendiri, kemudian membayar dengan memasukkan uang pas ke dalam toples. Pada poster juga ditulisi “Tuhan telah mengawasi kita” serta ucapan terima kasih atas kejujuran dan kedatangan pembeli.
Tujuan mulia Abdul Mukti membuka kios bensin kejujuran adalah untuk melayani masyarakat yang kehabisan bensin pada malam hari. “Saya kasihan tengah malam sering menjumpai orang yang menuntun sepeda motor karena kehabisan bensin,” ungkapnya.
Atas dasar itulah Abdul Mukti kemudian membuka kios bensin yang buka selama 24 jam penuh di seberang rumahnya. Namun karena tidak setiap saat dapat menunggu kiosnya, sang pemilik membiarkan pembeli mengambil dan membayar sendiri.
Sehari-hari Abdul Mukti adalah penarik becak yang mangkal di depan rumahnya. Ia juga berjualan tanaman hias dan buah-buahan dalam pot serta menjual binatang hobi seperti hamster, ayam kate, marmut, ikan hias serta kelinci di depan rumahnya. Usaha jualannya tidak setiap hari laku.
Meski lebih sering dirugikan dengan ulah para pembeli, Abdul Mukti mengaku tidak akan menutup kios bensinnya. Karena tujuannya untuk membantu masyarakat yang kehabisan bensin, dia akan tetap membuka kios itu. “Memang banyak teman-teman saya yang bilang saya stres dan berbuat konyol. Tapi karena tujuan saya membantu, saya ikhlas saja,” ungkap bapak tiga putera itu.
Terhadap pembeli yang ngemplang, Abdul Mukti hanya berucap pembeli yang tidak membayar itu tidak takut dengan dosa hanya karena uang Rp 5.000. “Saya ikhlaskan saja, tapi yang tidak membayar nanti akan berurusan dengan Allah,” tambahnya.
Abdul Mukti mengaku mendapat pelajaran dan petuah untuk berbuat ikhlas setelah menjadi mualaf tahun 1991 silam. Saat itu salah seorang kiai Ponpes Lirboyo mengajarkan untuk berbuat ikhlas dan membantu sesama.
Ia mengaku tidak latah mendirikan kios bensin kejujuran karena maraknya kantin kejujuran yang didirikan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Seperti diketahui kantin kejujuran terbentuk sejak tahun 2007. Kantin kejujuran berawal dari kesepakatan Kejaksaan Agung RI dengan Karang Taruna Nasional. Tujuannya untuk menumbuhkan kejujuran melalui pendidikan yang merupakan strategi dasar penanggulangan korupsi. Setidaknya telah berdiri 6.705 kantin kejujuran di seluruh Indonesia, namun 167 di antaranya kemudian bangkrut. Menurut Kejaksaan Agung, ratusan kantin itu bangkrut karena salah satunya pembeli mengambil uang kembalian melebihi dari yang seharusnya.
Sejumlah warga yang ditemui Surya mengaku sangat terbantu dengan keberadaan kios bensin kejujuran yang dibuka Abdul Mukti. Seperti dikemukakan Warsito (44), warga Mojoroto yang mengaku pernah membeli bensin di kios bensin kejujuran. Saat itu tengah malam sepeda motornya tiba-tiba mogok karena kehabisan bensin. Beruntung ada warga yang memberitahu kalau ada kios bensin milik Abdul Mukti.
Semula Warsito mengaku sempat ragu untuk mengisi bensin karena pemiliknya tidak ada di tempat. Tapi karena di kios itu ada panduan tata cara mengisi bensin kejujuran dia akhirnya memberanikan diri. “Setelah ambil bensin, saya membayar Rp 5.000 dengan memasukkan ke toples plastik,” tuturnya.
Warsito memberi acungan jempol kepada Abdul Mukti yang berani membuka kios bensin kejujuran. Selain melatih masyarakat untuk berbuat jujur, juga berani menanggung risiko rugi karena dipastikan banyak yang mengemplang. “Mudah-mudahan kios itu melatih kejujuran masyarakat,” harapnya.
Pemilik kios bensin kejujuran Abdul Mukti Muraharjo menerima penghargaan PWI Award dari PWI Perwakilan Kediri.

Syaikh Ihsan Jampes (1901 – 1952) Ulama Dari Kediri

Tokoh Kediri: Syaikh Ihsan Jampes

Syaikh Ihsan Jampes (1901 – 1952) Ulama Dari Kediri
Syaikh Ihsan lahir pada 1901 M. dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan, adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya; dia pula yang merintis pendirian Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M.
Tidak banyak yang dapat diuraikan tentang nasab Syaikh Ihsan dari jalur ibu. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Ny. Artimah, putri dari KH. Sholeh Banjarmelati-Kediri. Sementara itu, dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor Jawa Barat, yang leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon.
Terkait dengan nasab, yang tidak dapat diabaikan adalah nenek Syaikh Ihsan (ibu KH. Dahlan) yang bernama Ny. Isti’anah. Selain Ny. Isti’anah ini memiliki andil besar dalam membentuk karakter Syaikh Ihsan, pada diri Ny. Isti’anah ini pula mengalir darah para kiai besar. Ny. Isti’anah adalah putrid dari KH. Mesir putra K. Yahuda, seorang ulama sakti mandraguna dari Lorog Pacitan, yang jika urutan nasabnya diteruskan akan sampai pada Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Itu dari jalur ayah. Adapun dari jalur ibu, Ny. Isti’anah adalah cicit dari Syaikh Hasan Besari, seorang tokoh masyhur dari Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Sunan Ampel Surabaya.
Berikut bagan nasab Syaikh Ihsan Jampes.
Ny. Isti’anah dan KH. Saleh-Pertumbuhan dan Rihlah ‘Ilmiah
Syaikh Ihsan kecil, atau sebut saja Bakri kecil, masih berusia 6 tahun ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian itu, Bakri kecil tinggal dilingkungan pesantren bersama sang ayah, KH. Dahlan, dan diasuh oleh neneknya, Ny. Isti’anah.
Semasa kecil, Bakri telah memiliki kecerdasan pikiran dan terkenal memiliki daya ingat yang kuat. Ia juga tekun membaca buku, baik yang berupa kiatab-kitab agama maupun bidang lain, termasuk majalah dan Koran. Selain itu, satu hal yang nyeleneh adalah kesukaannya menonton wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil akan mendatanginya; tak peduli apakah seorang dalang sudah mahir ataukah pemula. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, ia menjadi paham benar berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, ia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.
Kebiasan Bakri kecil yang membuat risau seluruh keluarga adalah kesukaannya berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri bukan sembarang judi, dalam arti Bakri berjudi hanya untuk membuat kapok para penjudi dan Bandar judi, tetap saja keluarganya merasa bahwa perbuatan Bakri tersebut telah mencoreng nama baik keluarga. Adalah Ny. Isti’anah yang merasa sangat prihatin dengan tingkah polah Bakri, suatu hari mengajaknya berziarah ke makam para leluhur, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Ny. Isti’anah mencurahkan segala rasa khawatir dan prihatinnya atas kebandelan cucunya itu.
Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudi. Akan tetapi, Karena Bakri tetap ngeyel, K. Yahuda pun bersikap tegas. Ia mengambil batu besar dan memukulnya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang kemudian menyentak kesadaran Bakri; sejak saat itu ia lebih kerap menyendiri, merenung makna keberadaannya di dunia fana.
Setelah itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia keluar dari pesantren ayahnya untuk melalalng buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Beberapa pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri diantaranya:
Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri),
Pondok Pesantren Jamseran Solo,
Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang,
Pondok Pesantren Mangkang Semarang,
Pondok Pesantren Punduh Magelang
Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk,
Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.
Yang unik dari rihlah ‘ilmiah yang dilakukan Bakri adalah bahwa ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik dari KH. Kholil Bangkalan, ia hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar falak kepada KH. Dahlan Semarang ia hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Peantren Jamseran ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.
Satu lagi yang unik, di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain.
Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya diganti menjaid Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH. Dahlan, dipanggil oleh Allah SWT. Semenjak itu, kepemimpinan PP Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil (nama kecilnya Muharror). Akan tetapi, dia mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkannya kepada Ihsan. Sejak saat itulah Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.
Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga PP Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942.
Sebagai seorang kiai, Syaikh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, ternyata Syaikh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syaikh Ihsan dikenal memiliki lmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syaikh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah yang meminta bantuannya.
Pada masa revolusi fisik 1945, Syaikh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. PP Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda; di Pesantren Jampes ini, mereka meminta doa restu Syaikh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syaikh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih pp jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syaikh Ihsan membuka gerbang pesantrenya lebar-lebar.
[B]Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan
[/B]Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-karyanya yang ‘abadi’) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya).
Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: (1) Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; (2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; (3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; (4) KH. Busyairi di Sampang Madura; (5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; (6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.
Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Berikut daftar karya Syaikh Ihsan Jampes yang terlacak:
  • Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), terbit pada 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas ilmu falak (astronomi).
  • Siraj ath-Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali), terbit pada 1932 setebal ± 800 halaman. Buku ini mengulas tasawuf.
  • Manahij al-Imdad (syarah dari kitab Irsyad al-‘Ibad karya Syaikh Zainudin al-Malibari), terbit pada 1940 setebal ± 1088 halaman, mengulas tasawuf.
  • Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan (adaptasi puitik \[plus syarah] dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), t.t., tebal ± 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.
[sufi]

Tokoh Kediri: Tan Khoen Swie penulis dan penerbit buku

Tan Khoen Swie? sopo kuwi?. Saya yakin wongkediri jarang yg tahu tentang Tan Khoen Swie. Secara tidak sengaja menemukan tokoh dari kediri lama ini lewat google. Secara singkat beliau adalah penulis sekaligus penerbit pada jaman penjajahan belanda. Punya toko Sorabaia di jl Dhoho.
Tan Khoen Swie (Wonogiri, Karesidenan Surakarta, 1883 – Kediri, 1953; disingkat TKS) adalah penulis dan penerbit buku (bernama sama) di Kediri pada paruh pertama abad ke-20. Buku-buku keluaran penerbit ini banyak menyebarluaskan hasil karya sastra Jawa modern pra-kemerdekaan dan ikut memperluas tradisi sastra Jawa tertulis yang baru mulai berkembang masa itu setelah dirintis oleh Ranggawarsita dan C.F. Winter di Solo pada awal paruh akhir abad ke-19. Sebelumnya, tradisi tulis sastra Jawa dilakukan dengan penulisan ulang. Sebagai contoh, versi-versi awal Serat Kalatidha (Ranggawarsita) dan Serat Wedhatama (Mangkunagara IV) disebarluaskan melalui penerbit ini.
Tidak diketahui banyak mengenai riwayat hidupnya karena TKS dikenal sebagai tokoh yang dianggap misterius. Masa kecilnya dijalani di Solo dan Wonogiri, sebelum kemudian ia mengadu nasib di Kediri. Selain sebagai penerbit ia juga berusaha dalam vulkanisir ban Dunlop serta memiliki toko kelontong yang dinamakan “Soerabaia”. Ia dikenal antikolonial. Sebagai tanda pernyataan ketidaksetujuannya terhadap penjajahan, ia selalu memanjangkan rambutnya hingga sebahu.
Bersamaan dengan wafatnya, riwayat usaha penerbitannya ikut tenggelam.

Rabu, 17 Oktober 2012

Nitisemito Legenda Kretek Jawa

Nitisemito: Juragan Bal Tiga


Nitisemito hanya menjadi legenda saja dalam sejarah kretek di Kudus. Nitisemito tampil sebagai pengusaha kretek sukses diawal industrialisasi kretek. Setalah Bal Tiga menghilang, Nitisemito tenggelam. Penikmat kretek masa kini lebih kenal Dji Sam Soe dari pada Bal Tiga yang pernah Jaya itu.
Siapa yang tidak kenal rokok kretek, hampir semua perokok pasti tahu bahkan pernah menikmatinya. Para pendaki gunung sering membawanya, lalu menikmatinya dipuncak gunung. Rokok identik dengan penyakit pernafasan.  Anehnya kretek justru diracik pertama kali oleh Djamhari yang sering sesak nafas. Setelah menikmati rokok ciptaannya itu, sesak nafas nafas Djamhari kian berkurang.
Djamhari memang dicap sebagai penemu rokok kretek dalam sejarah rokok di Kudus, yang merupakan kota asal kretek. Dalam sejarah kretek, Djamhari bukanlah nama besar. Ada Nitisemito, juragan—kalau boleh dibilang dialah konglomerat kretek—diawal sejarah komersialisasi di Kudus bahkan di nusantara. Sebenarnya ada banyak legenda dalam sejarah rokok kretek, termasuk cerita penjual kretek bernama Roro Mendut, sosok wanita cantik yang memikat pelangganya bukan karena rasa kreteknya, melainkan ludah Roro Mendut untuk merekatkan gulungan kreteknya.

Pengusaha Kretek Bal Tiga
Di sebuah desa bernama Janggalan—kecamatan kota Kudus—ditahun  1863, ibu Markanah melahirkan anak keduanya. Anak itu diberi nama Rusdi.  Ayah Rusdi adalah Haji Sulaiman, seorang kepala desa (lurah) didesanya, Janggalan.
Rusdi tidak pernah bersekolah kendati anak lurah, karenanya dia buta huruf. Diusia 17 tahun Rusdi mengganti namanya menjadi Nitisemito, nama Jawa yang terus disandangnya sampai akhir hidupnya, juga disandang oleh keturunannya
Nitisemito tidak meneruskan jejak ayahnya menjadi kepala desa, dia lebih memilih menjadi seorang wirausaha. Diusianya yang ke 17, dia merantau ke Malang (Jawa Timur) bekerja sebagai buruh jahit pakaian. Perlahan Nitisemito menjadi pengusaha konfeksi yang sedang berkembang walau hanya sementara. Usaha konfeksinya ini bangkrut karena dililit hutang. Lepas menjadi pengusaha konfeksi, Nitisemito-pun pulang kampung dan berdagang kerbau dan memproduksi minyak kelapa, usaha ini juga gagal. Akhirnya dia kembali kebawah lagi, kali ini menjadi kusir dokar. Walau begitu, jiwa dagang-nya masih mengalir dalam tubuhnya, disamping mencari nafkah dengan menjadi kusir, Nitisemito juga menjajakan tembakau.
Ketika menjadi kusir, Nitisemito sering mangkal di warung Mbok Nasilah (kini toko kain Fahrida, di jalan Sunan Kudus). Mbok Nasilah, dianggap juga sebagai penemu kretek, penemuannya bermula dari usahanya untuk menghentikan kebiasaan nginang para kusir yang sering mangkal di warungnya ditahun 1870an. Ampas nginang yang diludah oleh pengingangnya, mengotori warungnya. Rokok yang dijual diwarungnya untuk menghentikan kebiasaan nginang itu ternyata sangat diminati para kusir maupun pedagang keliling yang sering singgah di warungnya, termasuk juga Nitisemito. Rokok racikan Mbok Nasilah adalah campuran tembakau dengan cengkeh, rokok itu lalu dibungkus dengan daun jagung kering (klobot) setelah itu diikat dengan benang.
Singkat kata, Nitisemito-pun menikahi Mbok Nasilah ditahun 1894. Pernikahan Nitisemito dengan Mbok Nasilah ini adalah titik awal sejarah pemasaran rokok kretek. Hasil racikan Mbok Nasilah, menejemen produksi dan pemasaran yang bukan hal baru bagi Nitisemito yang sering kali jatuh bangun dalam dunia wirausaha. Pasangan yang saling mengisi dan berpengaruh dalam sejarah rokok kretek Kudus. Awalnya warung Mbok Nasilah menjadikan rokok kretek buatannya menjadi barang dagangan utama.
Perlahan tapi pasti usaha rokok itupun maju pesat. Awalnya, Nitisemito memberi label rokoknya “Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo” (Jawa: Rokok cap  Kodok makan ular), karena lebel itu menjadi bahan tertawaan dan tidak membawa hoki, Nitisemito lalu menggantinya dengan nama Tjap Bulatan Tiga. Karena kotak pembungkus rokok ini bergambar bulatan mirip bola, merek ini lebih dikenal pasar sebagai Bal Tiga. Merek Bal Tiga ini akhirnya menjadi merek resmi rokok produksi Nitisemito, akhirnya rokok ini diberi nama: Tjap Bal Tiga H.M. Nitisemito. Secara resmi Bal Tiga lahir pada tahun 1914 di desa Jati, Kudus.
Setelah usaha rokoknya berjalan sepuluh tahun, Nitisemito berhasil mendirikan pabrik diatas lahan 6 hektar di desa jati. Saat itu, di Kudus sudah beroperasi 12 pabrik rokok yang terbilang besar untuk ukuran masa itu, diantaranya milik M. Atmowidjojo (merek Goenoeng Kedoe)H.M. Muslich (merek Delima), Haji Ali Asikin (merek Djangkar) dan Tjoa kang Hay (merek Trio), M. Sirin (merek Garbis & Manggis).  Disamping yang besar, terdapat 6 pabrik rokok kelas-kelas gurem di Kudus waktu itu. Ditahun 1938, Nitisemito telah membawahi 10.000 buruh rokok dengan produksi rokok 10.000.000 batang perhari. Usaha Nitisemito semakin besar dan uang yang masuk semakin deras, untuk lebih mudah mengontrol keuangan, Nitisemito memperkerjakan tenaga pembukuan asal Belanda, orang kulit putih. Ironis untuk zaman itu, seorang pribumi mampu memperkerjakan orang Belanda. Biasanya orang pribumi bekerja pada orang-orang Belanda.
Perusahaan Nitisemito pernah menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk mempromosikan rokoknya di Bandung dan Jakarta. Rokok produksi Nitisemito memiliki pangsa pasar ke kota-kota di Jawa, Kalimantan, Sumatra bahkan ke Negeri Belanda.Usaha pemasaran Nitisemito juga dilakukan memalui radio. Memerikan hadiah: sepeda, piring, jam, dinding dan lainnya kepada para pemebeli dengan menukar bungkus rokok Bal Tiga dalam jumlah yang ditentukan. Cara sampai sekarang masih sering dilakukan banyak produsen dalam pemasaran produknya kepada masyarakat konsumen Indonesia.
Nitisemito berusaha agar usaha rokoknya abadi untuk anak cucunya. Kaderisari pewaris usaha diadakan dengan mengambil salah satu pegawai terpandai-nya untuk masuk dalam keluarganya. Nitisemito melihat bakat wiraswasta pada diri M. Karmani. Putri kedua Nitisemito lalu dinikahkan dengan Karmani. Nitisemito yang akan pensiun pelan-pelan dari usahanya itu mengangkat Karmani sebagai Menejer pabrik rokok Bal Tiga-nya. Begitu semangatnya, Nitisemito juga menyertakan nama Karmani dalam rokok Bal Tiga-nya.
Perjalanan usaha pribumi macam Bal Tiga Nitisemito tidak tanpa badai. Persaingan antar pengusaha, khususnya pengusaha pribumi dengan pengusaha Tionghoa dalam industri rokok berujung pada sebuah konflik dan huru-hara 31 Oktober 1918, yang berbentuk pada tindakan pengerusakan dan pembakaran pabrik rokok kretek, beberapa pengusaha rokok lalu diseret ke pengadilan dan dipenjara. Kerusuhan itu mengakibatkan kemunduran beberapa industri rokok kretek termasuk Bal Tiga.
Musibah terparah adalah tuduhan penggelapan pajak oleh pemerintah kolonial. Nitisemito dituduh menggelapan pajak yang merugikan pemerintah kolonial sebesar f 160.000,- melalui pembukuan dobel. Perkara ini menyeret Nitisemito ke pengadilan.  Awalnya pengadilan memutuskan akan menyita kekayaan Nitisemito serta menutup pabrik rokoknya. Rupanya pengadilan kolonial itu kecut melihat banyaknya buruh yang menggantungkan hidupnya pada usaha rokok Nitisemito itu. Diputuskan Nitisemito harus melunasi hutang pajak f 160.000 itu dengan menyicilnya. Oleh pemerintah, Nitisemito yang sudah tua saat pengadilan itu, dipandang sebagai manusia yang sangat berjasa dalam industri rokok kretek, industri yang juga memberikan masukan (berupa pajak) pada pemerintah kolonial masa itu.
Ada fitnah yang menyeret Karmani dalam kasus penggelapan pajak. Tuduhan penggelapan pajak tidak pernah terbukti dan Karmani terbebas dari tuduhan itu. kendati bebas dan tidak bersalah, hal ini telah membuat Karmani jatuh sakit lalu meninggal. Nitisemito dilanda kemalangan dalam hal ini karena tidak hanya kehilangan pegawai terbaiknya, menantunya saja, tetapi jugapewaris tahta industri kreteknya: Karmani. Padahal saat itu Nitisemito sudah separuh mundur dalam pengelolaan usaha yang dirintisnya dari bawah. Sang perintis, Nitisemito, akhirnya kembali turun dalam industri kreteknya, disaat dia harus pensiun. Ini bukan hal mudah kendati Nitisemito sangat berpengalaman, kondisinya yang semakin tua nyaris tidak mungkin menjalankan usaha kreteknya yang telah banyak tersaingi kretek lainnya.
Kesuksesan Bal Tiga juga tidak berlangsung lama. Disinyalir muncul konflik internal keluarga; siapa yang akan menggantikan Nitisemito yang semakin tua dalam menjalankan perusahaan rokok itu. Munculnya merek baru masam Minak Djinggo milik Kho Djie Siong, disinyalir semakin mempercepat tenggelamnya Bal Tiga ditahun 1930. Sebelumnya  Kho Djie Siong pernah bekerja pada industri rokok Nitisemito. Rupanya masa kejayaan Bal Tiga hanya menjadi prolog dalam sejarah industri kretek saja.Impian Nitisemito untuk meneruskan kejayaan Bal Tiga-nya telah gagal. Bal Tiga malah berakhir sebelum hidup Nitisemito sendiri berakhir diawal dekade 1950an.
Jiwa usaha Nitisemito tidak pernah termakan usianya yang semakin tua, kendati sulit bersaing dengan kretek merek-merek baru yang menjamur, Nitisemito terus bangkit. Sebelum kematiannya usahanya menghidupkan Bal Tiga beberapa gagal, Nitisemito tidak takut jatuh bangun dimasa seharusnya dia pensiun demi mengembalikan kejayaan Bal Tiga.

Senin, 15 Oktober 2012

Beckham dan Anak-anaknya

Minggu, 07 Oktober 2012

Syekh Yusuf

Kisah Syekh Yusuf, Pahlawan Nasional Penyebar Islam di AfSel

Foto: Khairul (detikcom) Cape Town – Di puncak bukit Macassar, Cape Town, Afrika Selatan (Afsel), makam Syekh Yusuf yang berkubah warna hijau kerap dikunjungi umat Islam, terutama dari Indonesia. Makam ini jadi titik tolak kisah penyebaran Islam di Afsel hingga sekarang.
Peziarah yang datang memang tidak setiap hari, namun rutin setiap bulan. Mereka umumnya ingin tahu lebih banyak tentang kiprah perjuangan yang dilakukan Syekh Yusuf dalam menyebarkan Islam.
Di komplek makam itu, tak banyak kisah yang bisa diperoleh. Hanya ada satu tonggak monumen yang menjelaskan tentang bagaimana Syekh Yusuf bisa sampai di Cape Town, Afrika Selatan. Namun versi lisan yang lengkap bisa diperoleh dari Adam Philander, imam Masjid Nurul Latief, masjid yang berjarak beberapa meter dari komplek makam Syekh Yusuf.
“Syekh Yusuf dibuang Belanda karena perlawanannya terhadap Belanda sewaktu di Banten. Penyebaran agama yang dilakukannya, tidak lepas dari pemahaman tentang Islam yang diperolehnya dari belajar di banyak tempat,” kata Adam di komplek makam tersebut dalam obrolan dengan detikcom, Rabu (12/10/2011).
Pada usia 18 tahun dia meninggalkan Makasar menuju Banten, setelah itu dia ke Aceh, dan seterusnya ke Yaman, dan kemudian ke Madinah dan Mekkah, lalu ke Damaskus, Suriah lalu ke Istanbul, Turki. Setelah 23 tahun belajar seluruh tempat itu, sosok yang dikenal dengan nama lengkap Syekh Yusuf Taj al Khalwaty Al Makassary itu kembali ke Makasar pada tahun 1668 dan pergi ke Banten pada tahun 1671.
Ada catatan yang menyebut dia langsung ke Banten tak singgah ke Makasar. Di Banten, dia menikah dengan salah satu anak Sultan Ageng Tirtayasa. Kemudian anak sultan, yakni Abdul Kahar melakukan perebutan tahta dengan bantuan Belanda. Seterusnya sultan ditangkap dan Yusuf bergerilya di Banten.
Selama masa gerilya itu, dia tetap menyebarkan Islam dan dikenal dengan nama Maulana Yusuf. Namun akhirnya tertangkap. Seterusnya dia beserta pengikutnya dibuang ke Srilanka pada 22 Maret 1684, dalam usia 58 tahun. Di sini dia tetap berdakwah, dan juga menulis beberapa buku.
Belanda kemudian mengasingkannya lagi ke ke tempat yang lebih jauh pada Juli 1693. Dengan menggunakan kapal De Voetboog, Yusuf beserta 49 pengikutnya dibawa ke Zandvliet, yang sekarang bagian dari wilayah Cape Town, Afrika Selatan. Tetapi hanya lima tahun di pengasingan ini, dia wafat pada 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Lalu dimakamkan di kawasan yang sekarang disebut Macassar, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Cape Town.
Ketika Syekh Yusuf wafat di Cape Town, kabar itu kemudian disampaikan Belanda kepada keluarga Sultan Banten dan Raja Gowa. Kedua kerajaan itu meminta agar jenazahnya dikirimkan dari Afrika Selatan, namun permintaan itu ditolak Belanda. Kemudian pada tahun 1704 Raja Gowa Abdul Jalil kembali meminta Belanda mengirimkan kerangka jenazah ke Gowa, dan kali ini disetujui. Ada catatan yang menyebutkan kerangka jenazah tiba Gowa pada 5 April 1705 dan turut serta juga dalam perjalanan itu keluarganya selama masa pembuangan.
Ihwal jenazah yang dikirimkan ke Gowa itu, masih juga diragukan. Keturunan Indonesia yang berada di Cape Town, tetap yakin jenazahnya masih ada di Cape Town. Komplek makamnya terus dibina, dan tiga Presiden Indonesia juga datang ke sini, yakni Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
“Ada beberapa tempat yang diyakini sebagai makam Syekh Yusuf, tapi kami percaya makam itu di sini,” kata Adam.
Terkait dengan makam yang ada di Gowa, bisa jadi Belanda memang mengirimkan jenazahnya ke Sulawesi Selatan. Namun bisa jadi juga yang dikirimkan hanyalah bagian kuku dan rambutnya.
Semua spekulasi itu masih ada sampai sekarang, termasuk spekulasi yang menyebut keberadaan makam Syekh Yusuf di Srilanka dan Banten. Yang pasti di Macassar, Afrika Selatan, masih ada makamnya yang bisa menjadi jalan untuk terus mempelajari jejak perjuangan Syekh Yusuf yang telah diangkat menjadi pahlwan nasional Indonesia.

Selasa, 25 September 2012

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono


Susilo Bambang Yudhoyono

Masa Bakti 2004 

 

Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas. Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).


Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri. SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka SBY pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).


Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.


Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS. Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.


Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.


Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)


Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993).


Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).


Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada 11 Maret 2004, beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu Presiden langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-6. (Dari Berbagai Sumber)

Presiden Megawati Soekarnoputri


Megawati Soekarnoputri

Masa Bakti 2001 -- 2004

 

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang ke-8 dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI pertama yang juga proklamator, Soekarno dan Fatmawati. Megawati, pada awalnya menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU, Surendro dan dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad Prananda dan Mohammad Rizki Pratama.

Pada suatu tugas militer, tahun 1970, di kawasan Indonesia Timur, pilot Surendro bersama pesawat militernya hilang dalam tugas. Derita tiada tara, sementara anaknya masih kecil dan bayi. Namun, derita itu tidak berkepanjangan, tiga tahun kemudian Mega menikah dengan pria bernama Taufik Kiemas, asal Ogan Komiring Ulu, Palembang. Kehidupan keluarganya bertambah bahagia, dengan dikaruniai seorang putri Puan Maharani. Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di Istana Negara. Sejak masa kanak-kanak, Megawati sudah lincah dan suka main bola bersama saudaranya Guntur. Sebagai anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istana.


Wanita bernama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, ia pernah belajar di dua Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972). Kendati lahir dari keluarga politisi jempolan, Mbak Mega -- panggilan akrab para pendukungnya -- tidak terbilang piawai dalam dunia politik. Bahkan, Megawati sempat dipandang sebelah mata oleh teman dan lawan politiknya. Beliau bahkan dianggap sebagai pendatang baru dalam kancah politik, yakni baru pada tahun 1987. Saat itu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya sebagai salah seorang calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara.


Masuknya Megawati ke kancah politik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik. Trauma politik keluarga itu ditabraknya. Megawati tampil menjadi primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara. Ternyata memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan beliau pun terpilih menjadi anggota DPR/MPR. Pada tahun itu pula Megawati terpilih sebagai Ketua DPC PDI Jakarta Pusat.


Tetapi, kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Tampaknya, Megawati tahu bahwa beliau masih di bawah tekanan. Selain memang sifatnya pendiam, belaiu pun memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik saat itu. Maka belaiu memilih lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation, itu secara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI. Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu.


Proses naiknya Mega ini merupakan cerita menarik pula. Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi. Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya. Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang didukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian status Mega sebagai Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah Nasional PDI di Jakarta.


Namun pemerintah menolak dan menganggapnya tidak sah. Karena itu, dalam perjalanan berikutnya, pemerintah mendukung kekuatan mendongkel Mega sebagai Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs, atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi Mega tidak mudah ditaklukkan. Karena Mega dengan tegas menyatakan tidak mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, sebagai simbol keberadaan DPP yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor itu.


Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, menundang empati dan simpati dari masyarakat luas.


Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah.


Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Juli 2001 anggota MPR secara aklamasi menempatkan Megawati duduk sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati menjadi presiden hingga 20 Oktober 2003. Setelah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau gagal untuk kembali menjadi presiden setelah kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-6. (Dari Berbagai Sumber)

Presiden Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid

Masa Bakti 1999 -- 2001

 

Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.


Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.


Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.


Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.


Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.


Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. (Dari Berbagai Sumber)


Abdurrahman Wahid wafat dalam usianya yang ke 69 pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie


Bacharuddin Jusuf Habibie

Masa Bakti 1998 -- 1999

 

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.


Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.


Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.


Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman. (Dari Berbagai Sumber)

Penghargaan

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Negara Bagian Niedersachsen

Penghargaan Dari :

Republik Federasi Jerman

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

1 Desember 1980

Deskripsi Singkat :

Bintang Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Negara Bagian Niedersachsen, Republik Federasi Jerman.

Foto :

 

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Penghargaan Tertinggi Republik Federasi Jerman

Penghargaan Dari :

Republik Federasi Jerman

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

11 Nopember 1980

Deskripsi Singkat :

B.J. Habibie menerima Bintang Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Republik Federasi Jerman.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Mahaputra Adipurna

Penghargaan Dari :

Pemerintah RI

Diberikan Kepada :

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

Tanggal :

12 Maret 1998

Deskripsi Singkat :

Bintang Mahaputra Adipurna Kepres 022/TK/Tahun 1998

sumber: Sekretariat Militer Presiden

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Republik Indonesia Adipradana

Penghargaan Dari :

Republik Indonesia

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

12-3-1998

Deskripsi Singkat :

Bintang Republik Indonesia Adipradana;
Wakil Presiden Republik Indonesia;
Keppres No.022/TK/TH.1998; Tanggal 12-3-1998.

Bintang Republik Indonesia diadakan dengan tujuan untuk memberi kehormatan istimewa kepada mereka yang berjasa sangat luar biasa guna keutuhan, kelangsungan dan kejayaan Negara.

Bintang Republik Indonesia adalah tanda kehormatan yang tertinggi diantara tanda-tanda kehormatan.

Bintang Republik Indonesia berbentuk sebagai berikut :

Bintang emas bersudut tujuh, yang berpinggir putih dari email dan ujungnya berupa pentol mutiara, terletak pada tujuk berkas sinar emas dan tujuh berkas sinar mutiara, berkas mana masing-masing terdiri dari tujuh sinar (tiap-tiap sinar mutiara diwujudkan oleh serangkaian mutiara).

Pentol mutiara dari bintang itu terletak pada sinar emas yang berada di tengah sendiri.

Di tengah-tengah bintang emas ditulis huruf-huruf R.I. dari emas yang berarti Republik Indonesia di atas dasar biru tua dari email dan dilingkari oleh 17 butir mutiara yang berangkaian satu dengan yang lain.

Tepat di atas lingkaran mutiara ini terletak Lambang Negara pada sebuah dari tujuh sudut bintang.

Keterangan :

Sudut tujuh adalah lambang dari 7 cakram yang berada di dalam tubuh manusia sebagai cabang sumber kekuatan hidup.
Warna putih dari pingguran bintang melambangkan kesucian.
Tujuh berkas sinar emas dan tujuh berkas sinar mutiara menghias tujuh cakram tersebut di atas.
Huruf R.I. ditulis dengan warna kuning keemasan sebagai lambang kebijaksanaan di atas dasar biru tua sebagai lambang kesetiaan dan ke Tuhanan.
Lingkaran yang terdiri dari rangkaian 17 mutiara mengingatkan pada hari Proklamasi Republik Indonesia.


I. BINTANG REPUBLIK INDONESIA (BRI):


Merupakan Tanda Kehormatan tertinggi diantara Tanda-tanda Kehormatan.
Tanda Kehormatan BRI terdiri dari 5 kelas:

BRI Adipurna
BRI Adipradana
BRI Utama
BRI Pratama
BRI Nararya.


Tanda Kehormatan BRI Adipurna sampai dengan BRI Nararya, berpita selempang.


sumber: http://www.setneg.go.id

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Grand Cordon Of The Order of Al-Istiqlal

Penghargaan Dari :

Kerajaan Yordania

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

14 April 1986

Deskripsi Singkat :

Tanda Kehormatan “Grand Cordon Of The Order of Al-Istiqlal (Independence)” dari Pemerintah Kerajaan Hashemite Yordania.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Penghargaan Tertinggi Kerajaan Spanyol

Penghargaan Dari :

Kerajaan Spanyol

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

14 Mei 1980

Deskripsi Singkat :

B.J. Habibie menerima Bintang Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Kerajaan Spanyol atas jasa-jasanya.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Tokoh Teknologi Penerbangan

Penghargaan Dari :

Aviation Week

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

2 Januari 1984

Deskripsi Singkat :

terpilih sebagai salah seorang dari 21 tokoh yang berjasa dalam teknologi penerbangan dan angkasa luar tahun 1983 oleh Team Editorial Majalah “Aviation Week & Space Technology”.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Gelar

Nama Penghargaan :

Profesor Kehormatan/Guru Besar

Penghargaan Dari :

Institut Teknologi Bandung

Diberikan Kepada :

B.J. Habibie

Tanggal :

22 Maret 1977

Deskripsi Singkat :

Menerima Tanda Jasa sebagai Profesor Kehormatan/Guru Besar pada Istitut Teknologi Bandung, dalam Bidang Konstruksi Pesawat Terbang.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Penghargaan Tertinggi Kerajaan Belanda

Penghargaan Dari :

Pemerintah Kerajaan Belanda

Diberikan Kepada :

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE, Prof.Dr.Ing.

Tanggal :

25 Mei 1983

Deskripsi Singkat :

Bintang Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Kerajaan Belanda, karena jasa-jasa nya.

Foto :

Jenis Penghargaan :

Piagam

Nama Penghargaan :

Bintang Jalasena Utama

Penghargaan Dari :

Pemerintah RI

Diberikan Kepada :

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

Tanggal :

27 Mei 1998

Deskripsi Singkat :

Bintang Jalasena Utama Kepres 040/TK/Tahun 1998

sumber: Sekretariat Militer Presiden

Foto :